Wednesday, December 02, 2020

JAPAN TRIP 2019: Preparation

This post just another part of our journey to Japan on April 2019. Maybe it's not a main part, but an important part that decided what we would do and where would we go.

Nah, gue akan coba ulas persiapan kita sebelum traveling agak jauh dan bawa anak balita dengan cara backpacker (alias non tour and travel). Kalau tulisan selama kita ada di Jepang ada disini

So, apa aja sih? Poin-poin pentngnya adalah:

  • Paspor. Penting banget! Perhatikan waktu expired-nya. Minimal paspor kalian masih berlaku 6 bulan lagi, kalau mau aman ya setahun.
  • Itinerary. Nah ini PENTING banget. Istilahnya guidance kalian ya ada di itinerary ini. Kalau gue bikin 2 versi, versi lengkap buat guidance selama di Jepang dan versi singkat buat pengajuan visa.
  • Visa. Kalau paspor kalian masih paspor biasa (kayak gue sekeluarga), visa wajib banget.
  • Berapa lama kalian akan traveling? ini penting banget untuk menentukan banyaknya baju yang akan dibawa, banyaknya uang yang harus disiapkan, dan itinerary terkait hotel dan akomodasi.
  • Musim apa kalian akan kesana? Ini juga critical. Jangan pernah meremehkan musim di tempat tujuan. Kalau tujuan kalian masih sama-sama Asia Tenggara mah nggak masalah. Gue sempet meremehkan spring-nya Jepang yang gue kira udah hangat dan cuaca agak mirip Bandung. Ternyata salah besar! Suhu minimal sampe 7 derajat. Dan gue cuma bawa cardigan dan jaket biasa huhuhu.
  • Internet. Bisa pakai modem atau paketan internet roaming. Gue sih prefer modem. Ini berguna banget sih, nggak cuma buat eksis tapi buat nyari jalan.
  • Tuker uang. Secukupnya aja, jangan kurang dan jangan berlebihan. Kalau kurangpun kalian masih bisa tarik tunai di ATM negara tujuan.
Lengkapnya kalau pengalaman kita traveling ke Jepang kemarin dengan bawa balita umur 4,5 tahun, gue ulas aja ya dibawah, so here we go!

Monday, July 20, 2020

JAPAN TRIP 2019: Nihon e Youkoso!

"For me, traveling is not only about a sightseeing and taking many pictures, but also how we know, understand, and respect others' culture."

Finally I could make a checklist (done) to one of my lifetime bucketlist, which was visiting Japan!

Yap, Jepang itu negara yang sangat ingin gw kunjungin sejak kecil (disamping Mekkah dan Madinah ya). Karena memang  gue termasuk salah satu anime dan J-dorama freak :).

Since I was a child (a primary school grader), I was really crazy towards every little thing about Japan. Sampai-sampai gw tertarik untuk belajar Bahasa Jepang secara autodidak (karena untuk ikut les atau kursus terbilang cukup pricey bagi gw yang dari kalangan keluarga sederhana). 

Jadi waktu itu, paman gue (atau adiknya ibu) ada pertukaran pegawai ke Jepang. Beliau karyawan PT ATI (anaknya PT Astra International). Gw yang masih kelas 3 SD saat itu request oleh-oleh Kimono, hahaha. Tapi pada akhirnya nggak dibawain sih karena harga Kimono ternyata mahal banget. Si Paman ngasih oleh-oleh ibu dompet kulit yang awetnya sampe bertahun-tahun.

Okay, balik lagi ke topik inti. Jadi tanggal 6 - 13 April 2019 kemarin, gw bersama suami dan anak pertama baru aja familypacker ke Jepang. Banyak yang nanya, ke Jepang pakai Tour and Travel atau Backpacker? Gimana tips-nya bisa traveling bawa anak balita? Gimana akses selama disana? Dan lain-lain dan lain-lain.

Untuk persiapannya, gue tulis pada postingan sendiri yaa.. silakan mampir kesini. Kali aja mau iseng-iseng baca hehehe.

Nah, that's why I'll try to write em all mumpung masih anget walau udah lewat setahun dan masih agak inget detail perjalananannya. 

Saturday, May 16, 2020

Makassar, First Flying Experience

Notes: Tulisan ini dibuat Mei 2020, while gue ke Makassar Maret 2012. Udah lama banget kan? Jadi detailnya udah banyak yang lupa!


Part 1
Kerja di Maskapai tapi Belum Pernah Naik Pesawat?

Dari umur berapa kalian pertama kali naik pesawat hayoo?

Buat yang keluarganya berada atau mudiknya diseberang pulau, mungkin udah dari bayi naik pesawat. Nah gue yang mudiknya cuma ke Cepu dan bisa dijangkau naik kereta, sama sekali belum pernah sekalipun nyicip naik pesawat. Disisi lain karena untuk biaya hidup dan sekolah aja nyokap udah mati-matian banting tulang, mana kepikiran sih untuk traveling naik pesawat?

Jadi pertama kali gue naik pesawat itu pas kerja di Sriwijaya Air untuk urusan dines ke Makassar dan itu gratis tis! Semua akomodasi ditanggung kantor, kecuali oleh-oleh. 

Ceritanya setelah 3 bulan jadi pegawai sana, gue yang ada dibagian Quality Controller Service dan membawahi frontliner dan FA (Flight Attendant), dikasih proyek untuk ngasih semacam sosialisasi ke mereka. Mulai dari pelayanan dibagian loket, bagian pasasi, sampai diatas pesawat. Sosialisasi ini berupa penyuluhan supaya para pegawai kerja dengan sungguh-sungguh saat melayani penumpang karena pelayanan yang baik merupakan bagian terpenting dalam bisnis penerbangan disamping safety, tentunya. 

Awalnya sih gue cuma didapuk sebagai PIC proyek. Jadi bikin segala rencana termasuk pendanaannya. Gue yang saat itu masih anak bawang didunia kerjaan, bener-bener masih bingung terutama urusan uang-menguang. Tapi karena dibantu sama rekan-rekan yang baik-baik, alhamdulillah bisa terealisasi sesuai program.

Sosialisasi ini sebenernya terbagi beberapa kelompok. Ada yang ke Surabaya, Pangkal Pinang, Bandung, Semarang, Medan, Makassar. Nah sebagai PIC proyek, suka-suka gue dong mau ikut kelompok mana kan? Huahaha. Jadi gue pilih yang terjauh: Makassar.

Friday, May 08, 2020

Have you ever pooped in the air?

Warning: Postingan ini dibaca jangan sambil makan ya! (walau nggak jorok-jorok amat sih).

Pernah punya pengalaman pup di pesawat?

Yes, I have!
Once, waktu penerbangan dari Denpasar ke Bandung.
Dan itu rasanya... errghhh, menyebalkan.

Biasanya gue selalu menghindari baik pipis maupun pup di pesawat, karena memang nggak ada air untuk cebok atau ngeflush (karena pakai flush udara).
Kalau pipis sih masih mayan sering, apalagi kalau penerbangan mayan lama kayak pas ke Jepang kemarin. Gue yang emang beser, tercatat bisa 5x ke toilet dalam 8 jam! Hahaha.

Nah kalau dan nggak ada air kan repot yaa. Apalagi buat orang Indonesiah kayak kita gini.
Tapi kalau udah kebelet sampe ubun-ubun gimana lagi?

Jadi ceritanya pada Januari 2017 lalu gue sekeluarga (sama hubby dan Arsyad) trip ke Bali. Nah breakfast terakhir di Hotel Kutabex itu enyak banget, semacam shabu-shabu yang dikasih sambel banyak. Yak, gue selalu kalap kalau lihat sambel! Gue ambil sambel sebanyak-banyaknya dan makan dengan view pantai kuta. Sampai lupa diri kalau kebanyakan sambel bikin moncor.

Dan bener aja, efeknya baru kerasa pas di pesawat. Baru juga take off selama 30 menit, perut udah mulai kruwes-kruwes. Yailah.. masa gue harus pup di pesawat sih?
Atau coba sabar dulu kali yaa 1 jam-an lagi kan landing Bandung.
Gue coba meditasi, nahan biar rasa mules itu hilang, paling nggak sampe bandara tujuan lah. Ternyata makin lama makin menjadi. Daann.. yak, segera setelah lampu kenakan sabuk pengaman mati, gue segera ngacir ke toilet.

Finally legaa...

Walaupun tetep sebel sih. Biasa kalau pup perlu air segambreng, nah ini nggak ada air even untuk nge-flush. Akibatnya, tissue toilet habis sama gue sendiri, hahahaha. Dan so pasti, tissue basah sangat amat perlu.
Akhirnya perut gue pun berdamai sampai Bandara Husein Sastranegara Bandung.

Tapi begitu nunggu bagasi, aaaggggghhh... perut kembali mules!
Sial kaan!
Untung aja toilet bandara airnya banyak. Jadi fine fine aja.

Sekian, kisah pup diudara untuk pertama kalinya. Pengennya sih jangan lagi deh, kapok! Tapi who knows ya kalo perjalanan panjang kan mau nggak mau.

PS: Postingan nggak penting, karena udah lama nggak ada postingan baru jadi yang super ringan dulu yaa. Trip ke Jepang masih on-progress, menunggu waktu dan mood untuk nyelesain, hahaha!