Wednesday, December 02, 2020

JAPAN TRIP 2019: Preparation

This post just another part of our journey to Japan on April 2019. Maybe it's not a main part, but an important part that decided what we would do and where would we go.

Nah, gue akan coba ulas persiapan kita sebelum traveling agak jauh dan bawa anak balita dengan cara backpacker (alias non tour and travel). Kalau tulisan selama kita ada di Jepang ada disini

So, apa aja sih? Poin-poin pentngnya adalah:

  • Paspor. Penting banget! Perhatikan waktu expired-nya. Minimal paspor kalian masih berlaku 6 bulan lagi, kalau mau aman ya setahun.
  • Itinerary. Nah ini PENTING banget. Istilahnya guidance kalian ya ada di itinerary ini. Kalau gue bikin 2 versi, versi lengkap buat guidance selama di Jepang dan versi singkat buat pengajuan visa.
  • Visa. Kalau paspor kalian masih paspor biasa (kayak gue sekeluarga), visa wajib banget.
  • Berapa lama kalian akan traveling? ini penting banget untuk menentukan banyaknya baju yang akan dibawa, banyaknya uang yang harus disiapkan, dan itinerary terkait hotel dan akomodasi.
  • Musim apa kalian akan kesana? Ini juga critical. Jangan pernah meremehkan musim di tempat tujuan. Kalau tujuan kalian masih sama-sama Asia Tenggara mah nggak masalah. Gue sempet meremehkan spring-nya Jepang yang gue kira udah hangat dan cuaca agak mirip Bandung. Ternyata salah besar! Suhu minimal sampe 7 derajat. Dan gue cuma bawa cardigan dan jaket biasa huhuhu.
  • Internet. Bisa pakai modem atau paketan internet roaming. Gue sih prefer modem. Ini berguna banget sih, nggak cuma buat eksis tapi buat nyari jalan.
  • Tuker uang. Secukupnya aja, jangan kurang dan jangan berlebihan. Kalau kurangpun kalian masih bisa tarik tunai di ATM negara tujuan.
Lengkapnya kalau pengalaman kita traveling ke Jepang kemarin dengan bawa balita umur 4,5 tahun, gue ulas aja ya dibawah, so here we go!

Paspor

Paspor aman. Paspor gue expired April 2020, paspor Suami Desember 2023, dan Paspor Arsyad expired Mei 2021.

Backpacker atau ikut Tour and Travel?

Dari jaman honeymoon ke Lombok dulu sampai akhirnya traveling ke Phuket dan Bali, kita selalu backpacker. Alesannya simpel, kita nggak mau diatur-atur dan ikut jadwal travel yang sepadat itu (it looked like so busy even just to breath!

Untuk ke Jepang kali ini, awalnya gue udah sangat niat pengen kembali backpacker-an (atau family-packer lah karena pergi bareng bocah balita). Tapi gue coba baca-baca itinerary orang-orang serta ribetnya jalur kereta di Jepang. Terus belum lagi kayaknya banyak banget detail yang harus disiapin, kayak harus punya IC Card, JR Pass, atau yang lain-lainlah. 

Hampir nyerah, gue coba hubungin beberapa Travel Agent yang lumayan punya nama di Bandung. Tapi itinerary mereka nggak ada satupun yang cocok sama yang gue pengenin. Gue pengen tour berawal dari Tokyo, kemudian Kyoto dan terakhir Osaka. Akses antarkota harus pakai Shinkansen. Namun di itinerary mereka dengan biaya tour sekitar 35 juta-an per orang, nggak ada yang mencantumkan naik Shinkansen, semuanya pakai bus. Udah gitu rata-rata mereka lama di Tokyo (sampai 5 hari-an), di Kyoto cuma setengah hari, dan 2 hari di Osaka. Duh nggak deh, udah mahal terus mesti ngikut itinerary yang nggak sesuai dengan keinginan. So, bye Travel Agent!

Akhirnya gue kembali pelajari jalur kereta Jepang sambil tanya-tanya ke temen yang pernah berangkat backpackeran kesana. Alhamdulillah ada titik terang. Pelan-pelan gue bikin itinerary dengan segala akses keretanya. Lumayan takes time sih, ada kali 2 mingguan gw ngerjain ini (untung kerjaan kantor lagi nggak hectic, jadi bisa curi-curi waktu bikin itinerary hehehe).

Rencananya kita akan berangkat ke Jepang saat sakura mekar dengan rute Tokyo - Kyoto - Osaka. Jadi itinerary singkatnya begini:
  • Hari ke-1 (6 April 2019): Perjalanan dari Jakarta - Kuala Lumpur - Haneda.
  • Hari ke-2 (7 April 2019): Tokyo: Ueno Park, Asakusa Temple, Kaminarimon Gate, Tokyo Skytree, Akihabara 
  • Hari ke-3 (8 April 2019): Tokyo: Shibuya, Tokyo Tower, Harajuku, Shinjuku, dan perjalanan ke Kyoto pakai Shinkansen
  • Hari ke-4 (9 April 2019): Kyoto: Fushimi Inari Taisha, Kiyomizudera Temple, Gion
  • Hari ke-5 (10 April 2019): Kyoto: Arashiyama Bamboo Forests dan perjalanan ke Osaka pakai Shinkansen
  • Hari ke-6 (11 April 2019): Osaka: Umeda Sky Building, HEP Ferris Wheel, Osaka Castle, Tempozan Ferris Wheel, Aquarium Kaiyuukan, dan Tempozan Park
  • Hari ke-7 (12 April 2019): Osaka: Namba, Dotonburi Street, Shinsaibashi 
  • Hari ke-8 (13 April 2019): Perjalanan pulang dari Kansai International Airport - Denpasar - Jakarta.
Saat bikin itinerary emang harus banyak referensi perihal kita mau kemana aja dan aksesnya. Untuk naik kereta di Jepang, kita bisa pakai JR Pass ataupun pass-pass lain untuk naik kereta lokal. Kalau nggak mau pusing, bisa kok beli tiket satuan, tapi kita harus cermat karena kalau sering mondar-mandir pakai kereta, ya lebih baik beli tiket terusan (pass). 

JR Pass, Tokyo Subway Pass, dan Pass lainnya untuk Naik Kereta atau Bus

Jepang itu negara dengan budget yang mahal. Kalau nggak cermat, kantong kita bisa jebol. Untungnya pemerintah Jepang sangat aware untuk memajukan pariwisatanya dengan memudahkan transportasi untuk turis dengan berbagai pass yang tersedia.

Kalau nggak mau pusing dengan tiket terusan (pass), bisa kok beli tiket satuan. Tapi kalau kita bakal sering bolak-balik naik kereta atau bus, beli tiket terusan bisa hemat biaya. Jauh lebih murah malah. Contohnya di Tokyo. Tarif tiket Tokyo Metro ke stasiun terdekat 140 yen/orang, PP kita keluar uang 280 yen. Itu baru satu rute. Kalau ke beberapa tempat dan perlu transit, udah pasti jatohnya mahal. Terus gimana cara mengatasinya? Gue beli Tokyo Subway Pass 48 hours. Jadi dari pertama kali kita tap kartu itu di e-gate stasiun, akan berlaku sampai 48 jam kemudian (tanggal dan waktunya akan otomatis tercetak di kartu pass tersebut).

Okay, daripada bingung, gue coba jelasin beberapa tiket terusan yang berlaku untuk turis di Jepang (nggak semua ya gue bahas, cuma yang gue pakai dan hampir gue pakai aja selama di Jepang). Oiya, jangan lupa tunjukan paspor ya saat akan beli tiket pass, karena pass tersebut cuma berlaku buat turis aja!
  • Tokyo Subway Pass. Ada 2 jenis, yaitu warna merah untuk 24-hours Pass seharga 800 yen dan warna toska untuk 48-hours pass seharga 1,200 yen. Gue memperkirakan akan ada di Tokyo selama 2 hari, untuk amannya gue beli yang 48-hours pass. 
  • JR Pass. JR Pass adalah tiket terusan yang bisa dipilih selama 7, 14, ataupun 21 hari khusus untuk tourist Jepang. Selama punya JR Pass, kita bebas naik kereta ke setiap line yang dioperatori oleh perusahaan JR (Japan Railway). Harganya bisa dilihat disini. Kita sendiri nggak beli JR Pass, kenapa? Setelah dihitung-hitung, kita akan rugi karena Line JR yang akan kita naikin cuma Shinkansen dari Tokyo ke Kyoto, JR Local Stasiun Kyoto - Stasiun Tofukuji PP, dan Shinkansen dari Kyoto ke Osaka. Dan lagi nggak semua tujuan wisata yang kita tuju dicover oleh JR. Apalagi di Kyoto dan Osaka yang lebih banyak private railway-nya. JR Pass akan untung kalau kalian minimal ada perjalanan PP Tokyo - Kyoto - Osaka - Tokyo. 
  • Kyoto Keihan Sightseeing Pass. Ini Pass yang kita pakai selama di Kyoto. Kita beli yang One Day Pass aja karena rencana hari kedua di Kyoto kita bakal pakai Hankyu Pass untuk akses ke Arashiyama dan Umeda (Osaka). Harga One-Day-Pass 600 yen. Perlu diketahui, Pass ini cuma berlaku untuk Kyoto Keihan Line. Selain Kyoto Keihan Sightseeing Pass, ada juga Kyoto-Osaka Keihan Sightseeing Pass.
  • Hankyu Pass. Tadinya kita pengen pakai Pass ini untuk ke Arashiyama dan Umeda (Osaka). Berhubung ada perubahan rencana dimana kita pakai Shinkansen ke Osaka-nya, kita pun nggak jadi beli Pass ini karena nggak menguntungkan kalau cuma sekali jalan. Harga One-Day-Pass nya 700 yen.
  • Osaka Amazing Pass. Ini Pass yang wajib dibeli kalau mau keliling Osaka! Pass ini nggak cuma untuk akses kereta Osaka Metro Subway tapi juga banyak wahana yang ada di Osaka. Harga One-Day-Pass-nya JPY 2,700 dan Two-Days-Pass-nya JPY 3,600. Worthed kah? Sangat worthed! Kita beli yang Two-days-Pass, kali ini Arsyad pun dibeliin juga karena walau naik kereta anak-anak dibawah 6 tahun nggak perlu bayar, tapi untuk naik wahana perlu pakai Osaka Amazing Pass.




Karena kita nggak naik bus sama sekali selama di Jepang, jadi gue skip ya untuk pass-pass yang menggunakan bus.

Tips:
Selalu rencanakan itinerary matang-matang biar nggak rugi saat akan beli Pass atau tidak.

Perlukah booking online untuk tiket Shinkansen atau Pass yang lain?
Kalau kalian tipe yang sangat berpedoman pada itinerary dan harus bener-bener on-scheduled, mungkin kalian bisa beli online. Tapi kita kemarin langsung beli di vending machine. Prinsipnya Shinkansen itu ada setiap 10-25 menit sekali tergantung jenis keretanya. Shinkansen Nozomi itu yang paling cepat dan yang paling sering frekuensi KA-nya (memang paling mahal sih dibanding Hikari dan Kodama). Kemarin kita naik yang Nozomi karena jadwal yang paling cocok ya cuma itu. Fyi, JR Pass nggak bisa dipakai buat Shinkansen Nozomi, tapi bisa dipakai untuk Shinkansen Hikari  (tercepat kedua setelah Nozomi) dan Kodama.

Kalau untuk Pass KA lokal, kita beli di stasiun-stasiun tertentu dan Tourist Information Center.

Hunting Tiket Pesawat dan Hotel

Nah ini bisa jadi hal yang paling penting soalnya menentukan banget awal itinerarynya. Berhubung Kantor gue dan suami nggak bisa dijagain untuk urusan cuti-mencuti, jadi kita nggak hunting tiket promo. Seadanya tiket pesawat aja. Like usual, gue hunting di 3 situs OTA (Online Travel Agent) yaitu Traveloka, Tiket.com, dan Booking.com untuk cari tiket pesawat. 

Tadinya gw pilih tanggal 30 Maret 2019 - 6 April 2019 karena itu golden period sakura mekar. Tapi kok harga tiket pesawat pas tanggal segitu nggak reasonable, apalagi penginapannya. Akhirnya gue coba mundur seminggu dan diputuskan kita akan ke Jepang tanggal 6 - 13 April 2019.

Awal buka Traveloka, tiket pesawat Jakarta - Tokyo pas akhir November 2018 (Garuda) diharga 4,7 juta-an/orang (sekali jalan). Flight sore dari Jakarta lalu transit di Denpasar, lalu berangkat ke Narita tengah malem.  Tapi gue nggak langsung booking, di hold dulu sambil pasang price alerts kali aja bisa turun kan. Tapi minggu-minggu selanjutnya kok harganya nggak turun-turun malah makin naik. Ada penyesalan sih kenapa nggak langsung booking aja pas itu?

Tapi nggak disangka, pas awal Januari gue iseng-iseng buka Traveloka lagi ternyata ada Air Asia harga 2 juta (tambah 500ribu untuk bagasi 20 kg). Langsung lah gue kabarin suami dan dia segera nyuruh booking. Fix, kita berangkat ke Jepang (Bandara Haneda) naik Air Asia. Berangkat dari Jakarta jam 06.00 dan transit 5 jam-an di Kuala Lumpur, kemudian sampai Haneda jam 22.30 di jadwal.

Tiket berangkat udah, lalu tiket pulang? Ini masih galau. Belum ada tiket sesuai kocek. Sambil nunggu harga tiket agak miring, gue booking hotel dll sambil bikin itinerary.

Sampai Akhir Januari belum ada lagi tiket dibawah 3 juta-an per orang. Sekalinya ada, jam-nya nggak cocok dan harus transit sampe berpuluh-puluh jam. No, no. Siapa juga yang mau capek diperjalanan. Sebenernya ada Air Asia, tapi jam-nya juga nggak cocok. Berangkat dari KIX (Kansai Airport) tanggal 13 April malam hari dan baru sampe Jakarta Minggu siang. Sedangkan Seninnya udah kerja lagi. Pasti kita bakal rontok karena harus perjalanan dari Jakarta ke Bandung dulu. 

Itinerary udah siap, tinggal kepastian tiket pulang untuk persyaratan bikin visa. Akhirnya kita jatuhkan pilihan pada Garuda Indonesia. Berangkat dari Kansai International Airport/Osaka (KIX) jam 10.50 pagi, transit 5 jam-an di Denpasar, dan sampai Jakarta jam 22.30. Walaupun cukup pricey (sekitar 6 juta-an/orang), tapi it's okay lah. Setidaknya Garuda kan nyaman. Nggak perlu mikir bagasi dan makan.


Tips:

Sebenernya kita bisa dapet tiket murah dengan pakai maskapai ternama macam ANA, JAL, atau SQ) di situs Travelrack.co (IG-nya juga ada). Mereka menawarkan harga tiket paling mahal 6 juta PP/pax (pesawat full service bok!). Tapi lagi-lagi, jadwal nggak ada yang match dengan itinerary yang gw bikin (terlebih karna gw udah terlanjur booking Air Asia sih). 
Kekurangannya, untuk ANA dan JAL, nggak bisa multicity. Jadi harus PP Jakarta - Narita - Jakarta. Gw perhitungkan juga dong untuk naik Shinkansen dari Osaka ke Tokyo yang cukup mahal (sekitar 1,8 juta-an per orang). 
Kalau SQ bisa multicity (rute Jakarta - Tokyo - Osaka - Jakarta), tapi sayangnya flight period-nya nggak masuk. Promo SQ bisa untuk dipakai di Summer (mulai Juli). Lah kan percuma... kita kan mau hanami-an di Jepang!

Soal booking hotel, pilih yang bisa Pay at Hotel. Paling cuman ngasih garansi Kartu Kredit aja. Kalau kalian muslim, mending pesen kamar hotel aja soalnya percuma juga kan breakfast-nya hampir pasti mengandung pork. Jadi mending hunting makan diluar aja. Booking hotel ini perlu sih untuk persyaratan bikin visa.

Bikin Visa Jepang

Berhubung paspor kita masih paspor biasa, makanya harus bikin Visa Jepang. Nah ini part yang sangat bikin deg-degan. Sempet baca blog orang-orang kalau Visa Jepang termasuk yang tersulit setelah Visa US dan Schengen. Tadinya gue mau urus sendiri ke JVAC Lotte Shopping Avenue, Kuncit, Jakarta. Tapi kok takut juga karena nggak pengalaman. Akhirnya gue pun pakai jasa Travel Agent (Gue pakai WITA Tour karena setelah gue bandingkan biaya pengurusan visa disitu paling murah dibanding Travel Agent lain). Tapi ya itu, syarat dari si WITA Tour banyak banget. Mungkin dia mengeliminir kemungkinan Visa ditolak. Soalnya kan ngaruh banget ke kredibilitas dia. Untuk syarat bikin visa nggak akan gue bahas detail disini (mungkin di tulisan terpisah). But if you really need to know, go browsing Japan Embassy pages. 

Awal Februari setelah dapat kepastian tiket pulang, gue finalisasi itinerary dan cek ricek kelengkapan dokumen yang udah gue persiapkan sejak awal Januari (niat banget kan? hahaha). Akhirnya, tanggal 8 Februari 2019 gue pun ke WITA Tour dengan membawa semua dokumen persyaratan dan tetek bengeknya.


Berapa sih biaya bikin Visa Jepang?

Biaya Visa kalau urus sendiri sebenarnya murah, per orang cuman 360rb + 155rb (untuk biaya administrasi) = total 515ribu (tapi gw agak nggak ngerti sih tentang biaya administrasi. Dibeberapa situs yang gue baca, ada yang mencantumkan tapi ada juga yang nggak).

Berhubung gue pake jasa Travel Agent, biaya Visa jadi 732ribu/orang (kalau beli produk di WITA Tour cukup bayar 632ribu aja). Mereka menjanjikan Visa jadi dalam waku 8 - 10 hari kerja. Jadi estimasi Visa gw jadi itu tanggal 22 Februari-an. Such a looong time to wait in uncertainty!

Selama seminggu untuk nunggu kepastian approval Visa itu rasanya kayak mules sepanjang hari. Mana gue sering baca-baca kalau banyak juga Visa yang ditolak jadinya angus aja gitu tiket pesawat dan bookingan hotelnya. Kan sayang banget bok duit berjuta-juta mesti direlakan. Agak ngeri-ngeri sedap juga karena tiket Air Asia gue itu non-refundable. Walau tiket Garuda buat pulangnya refundable, tetep aja nggak bakal balik 100%. Nah fungsinya booking hotel dengan sistem Pay at Hotel ini sebagai salah satu cara biar nggak nyesek-nyesek amat saat visa ditolak.

Ternyata pas tanggal 16 Februari 2019, pihak WITA Tour hubungin gue dan bilang Visa kita udah jadi! Alhamdulillah... all my anxiety had all gone in a flash. Without second thoughts, kita yang saat itu emang lagi daerah sekitaran Kantor, langsung melesat ke WITA Tour. Dann.. paspor udah tertempel visa Jepang!

Tips: Masa berlaku Visa Jepang itu 3 bulan dari tanggal penerbitan. Jadi pastikan saat keberangkatan visa kalian masih berlaku. Visa wisata hanya untuk 14 hari aja selama di Jepang, so bikin itinerary secukupnya aja jangan aneh-aneh lewat karena imigrasi Jepang memang ketat. Kalau uang kalian dianggap nggak cukup untuk itinerary yang superbanyak, mereka nggak akan segan-segan mendeportasi!

Booking Airport Transport ke Hotel

Tadinya gue pengen bermalam di Haneda sambil nunggu kereta pagi ke Ginza (hotel pertama kita di daerah Ginza) karena baru ada mulai jam 05.18. Tapi karena bawa Arsyad dan udah pasti kita tepar kalau nggak tidur di kasur setelah perjalanan panjang, kita pun memutuskan booking hotel. Well, ini booking susulan. Tadinya mau disamain kayak hotel yang check-in tanggal 7 (APA Hotel Ginza), tapi harganya melonjak jauh. Yaudah cari yang agak murah tapi masih disekitar Ginza. Sebenernya nggak murah juga sih dengan harga 12,690 yen untuk nginep cuman beberapa jam. FYI, waktu check-in hotel di Jepang agak beda sama di Indo ya. Kita baru bisa check in jam 15.00 dan check out jam 10.00. Curang kaann... tapi bisa jadi supaya mereka punya banyak waktu untuk bebersih.

Keputusan untuk booking hotel ketimbang nginep di bandara itu berdasarkan pengalaman pas ke Phuket 3 tahun lalu. Saat itu pesawat transit 10 jam di Changi, kita pun tidur sebisanya dikursi-kursi yang ada. Akibatnya pas udah di Hotel Phuket, kita pun tepar tidur sampai Magrib dan waktu pun terbuang sia-sia.

Airport Limousine Bus ini cuma sampai shuttle aja. Yang terdekat dari Hotel ya Stasiun Ginza walaupun harus jalan 1,4 km. Sebenernya nggak perlu booking bisa sih, tapi antisipasi aja takutnya bus penuh. Gue booking online disini. Harga tiketnya mayan mahal, ini karena nggak ada pilihan lain sih. Untuk dewasa JPY 1,860/orang dan anak-anak JPY 940.

  
Urusan Cuti Mencuti

Berhubung gue dan suami adalah pekerja buruh kantor, urusan cuti ini bisa jadi yang paling menentukan untuk jadi atau tidaknya liburan kita. Cuti 5 hari kerja wasn't a short-time loh! Harus berbuat baik selama sebulan sebelumnya demi dapet ACC dari atasan. Kerjaan pun harus bener-bener dikebut. Alhamdulillah, atasan gue dan suami sama-sama kooperatif dan nggak mempersulit, hehehe Kalau sampe nggak di ACC, mau gue suruh gantiin uang tiket pesawat sih :)).


Ke Money Changer

Gue tukar uang ke tempat langganan, yaitu di Golden Money Changer (GMC) Dago. Dari jaman nukerin uang Yuan buat pacar (sekarang si pak suami) yang mau ke China Maret 2013 dulu, gue selalu setia sama Money Changer ini karena rate-nya lumayan bagus. Untuk ke Jepang kali ini, gue tukar uang JPY dan MYR (of course karena transit di Malaysia kan perlu duit juga buat beli makan).

Berapa keperluan JPY selama di Jepang?

Ini relatif sih, tergantung lama kita berpergian, gaya hidup kita disana, dan juga oleh-oleh yang harus kita beli. Tapi inget yaa, kalau belanja jangan sampai kalap nanti bisa kena Customs di Indonesia. Peraturan yang masih berlaku per penumpang nggak boleh bawa lebih dari USD 500. Selama nggak beli alat elektronik sih aman, hehehe.


Jadi cara hitung kebutuhan JPY kita gini:
  • Total biaya hotel (karena kita pilih Pay at Hotel semua. Kalau udah bayar dimuka sih nggak perlu).
  • Total biaya masuk ke tempat wisata (tempat wisata di Jepang mostly gratis, kecuali kalau mau naik ke Tokyo Skytree atau Tokyo Tower dll).
  • Total biaya tiket kereta (termasuk semua Pass dan tiket one-way-fare)
  • Konsumsi (asumsikan aja per orang 3,000 yen/hari. Jadi untuk makan kemarin karena bertiga, perkiraan kebutuhan adalah 3 orang x 3,000 yen x 8 hari = 72,000 yen.
  • Oleh-oleh. Nah kalau ini relatif seberapa banyak yang akan kalian beli. Kalau kita kemarin menganggarkan 'cuman' 10,000 yen. Ternyata realisasinya lebih dari itu! Hehehe.
Nah semua biaya diatas ditotal, dan dilebihin dikit buat jaga-jaga. Toh nanti kalau berlebih uangnya bisa kita jual lagi. Gue sih kemarin tuker 220,000 yen buat sekeluarga.

Untuk uang ringgit/MYR, kita cuman tukar sedikit, yaitu MYR 430. Estimasinya kan cuman transit 5 jam, jadi cukup lah buat beli makanan dan minuman aja.

Tips:
Kalau kalian nggak sempet tukar JPY banyak juga nggak masalah. Di Tokyo banyak ATM dari SevenBank dengan rate yang sangat bagus. Kemarin gw sempet tarik Tunai karena takut uangnya kurang. Rate-nya sesuai dengan Kurs BI dan per transaksinya dikenakan charge IDR 25ribu aja. 


Sewa Stroller!

Bagi yang berpergian bareng Balita, benda ini bakal sangat sakti. Soalnya namanya anak balita nggak mungkin dong dia mau jalan terus. Pasti adakalanya dia capek. Jadi ketimbang harus gendong kan mending bawa stroller. Gue sendiri nggak pernah punya stroller lipat (Pockit) yang bisa masuk kabin. Kalau mau beli kan sayang juga, toh cuma dipakai sementara aja.

Untungnya jaman sekarang banyak rental peralatan bayi. Dari beberapa tempat rental, akhirnya yang paling cocok di Beebies Republic (Jalan Brantas, Bandung). Stroller ini bisa dilipat dan dimasukkan tas ransel loh!

Bagi yang mau rental stroller atau peralatan bayi lainnya, bisa hubungin WA +62 838-2285-0596. Ini bukan endorse loh! promosi gratis! Hahaha.

Sewa Modem

Modem harus banget dan wajib dibawa ke Jepang. Kita tetep pengen kan eksis di dunia maya? Nggak cuma itusih. Internet perlu banget untuk GPS. 

Gue sewa modem di H.I.S Travel (kalau di Bandung di Jalan Juanda, sebelah Kartika Sari). Tarif sewa per hari 60ribu dan biaya deposit 500ribu. Jadi durasi sewa disesuaikan dengan tanggal tiba kita di Jepang sampai berangkat lagi. By the way, wifi ini cuma bisa dipakai di Jepang aja ya! Di Malaysia kita tetep bisa wifi-an pakai wifi airport.

Persiapan Baju

Kalau yang biasa traveling pasti udah ngerti berapa banyak baju yang diperlukan, Tinggal nyocokin aja sama musim apa yang ada di negara tujuan. Karena kita pergi udah spring tapi masih awal-awal spring, maka gue bawa jaket (cuma 2 biji. Yang 1 disimpen dikoper, yang 1 dipakai pas berangkat). Tapi gue bawain Arsyad full sweater sejumlah hari disana. Asumsinya kan nggak akan sempat nyuci. 
Jadi perhitungan gue gini:
  • Hari efektif disana: misal gue disana full 6 hari buat jalan-jalan. Gue cuma bawa baju 6 pasang.
  • Untuk tidur, gue cuma bawa 2 daster tipis yang dipakai berulang-ulang. Nggak bau juga sih kan nggak keringetan, hehehe.
  • Jaket. Nah ini harusnya gue bawa lebih dari 2, karena disana dingiiiin banget.
  • Kaus kaki, gue cuma bawa 3 pasang dan ternyata kurang.
  • Baju pulang 1 set.
  • Sarung tangan: cukup 1 aja bisa dipakai terus.
  • Sepatu: cuma yang dipakai aja. Gue bawa sepatu yang multifungsi, enak buat jalan jauh tp masih agak kece kalau difoto hehehe.
Kalau baju Arsyad sama, gue bawa 7 pasang, dan 2 pasang buat tidur. Kalau suami emang super irit, entah sih dia bawa berapa gue nggak ikutan packingin :))

So far, itu aja sih persiapan kita. Menurut gue sih cukup mateng, ya kalau separah-parahnya ada yang kelupaan bisa beli di Jepang. Total bawaan kita 2 koper 20 inch, 1 backpack berisi stroller dll, dan 1 sling bag yang gue pakai berisi dompet, paspor, dll.

Untuk lengkapnya trip kita selama di Jepang, ada di post ini yaa...

Jadi berapa sih total biaya yang kita habiskan selama traveling Jepang kemarin?

Karena ada beberapa yang nanya, gue lampirkan ya biaya yang kita keluarkan selama Japan Trip 2019 kemarin. Currency yang dipakai adalah Kurs Jual tahun 2019 yaa...

Estimasi:
1 JPY = IDR 130
1 MYR = IDR 3.500


JPY yang kita tukarkan itu udah include untuk:
  • Bayar hotel selama di Jepang. Kita booking pakai Pay at Hotel, jadi bayar cash disana pakai YEN. Total buat hotel habis sekitar JPY 61,390 atau IDR 7,9 jutaan.
  • Tiket Kereta selama di Tokyo, Kyoto dan Osaka habis sekitar JPY 52,520 atau kisaran IDR 6,8 jutaan. Termahal pastinya tiket buat Shinkansen (rincinya later yaa gue upload)
  • Osaka Amazing Pass, untuk 3 orang habis JPY 10,800 atau IDR 1,4 juta.
  • Makan, jajan, dan oleh-oleh selama di Jepang
So, budget ke Jepang emang tergolong nggak sedikit ya guys, apalagi bagi gue huhu. Tapi masih lebih murah daripada ikut travel agent yang malah nggak naik Shinkansen sama sekali. Gue dan keluarga sih nggak terlalu minat ke Theme Park kalo traveling, lebih suka aja suasana alam. Jadi kita nggak ada acara mampir ke Tokyo Disneyland, Universal Studio, dll. 

But remember, selalu ada cara untuk menekan budget. Misal, kalian bisa skip naik Shinkansen dari Tokyo ke Kyoto, tapi naik bus malam aja yang lebih murah. Atau dari Kyoto ke Osaka bisa pakai Hankyu Line yang pastinya lebih hemat. Kalian juga bisa skip naik Limousine Bus dan nunggu pagi di Bandara untuk naik kereta ke hotel atau nggak perlu makan di restoran dan cukup di convenience store aja beli onigiri. Hotelpun kalian bisa pilih hotel kapsul yang rate-nya dibawa 1 juta per malam. Bisa juga kalian tekan budget di pesawat pulang, cari promo pesawat PP. Kita emang sengaja pilih pesawat full service pas pulang biar nyaman dan nggak perlu mikir meals lagi.

Prinsip traveling kita kemarin itu backpacker tapi yaa nggak menggelandang banget. Penginapan masih pilih yang nyaman, makan pun beberapa kali di restoran, tapi tetap Family Mart tujuan utama hehe. Shinkansen pun kita harus naik, udah di Jepang masa nggak naik Shinkansen sih? Kita mikir gitu sih hehe. 

Well, guys, hope this will help untuk kalian yang mau backpacker ke Jepang dengan bawa anak. Ja mata ne!

No comments:

Post a Comment