Friday, December 03, 2010

Platonic Friendship?

Platonic Friendship? What kind of thing that was?

(before reading the explanation bellow, click the following link Obvious - Westlife as theme song for this note)

Well, platonic friendship atau bahasa Indonesianya persahabatan platonik adalah persahabatan yang terjadi antara dua manusia berbeda gender atau gampangnya persahabatan antara seorang laki-laki dan perempuan. 


Sebenarnya normal-normal aja kalau kalian punya persahabatan model seperti ini, tapi mungkin yang kebanyakan orang-orang khawatirkan adalah munculnya perasaan lebih dari sahabat (atau bisa dikatakan cinta-red) yang dialami oleh salah satu maupun keduanya. Banyak kasus persahabatan ini berujung pada cinta yang berbalas maupun one-sided love. Kalau akhirnya happy ending dengan arti kedua sahabat itu finally plunged into the deep abyss named love, itu ga akan jadi masalah. Tapi untuk kasus one-sided love banyak berujung pada perpecahan sahabat itu sendiri atau kalaupun persahabatan itu masih bisa survive, akan ada korban perasaan dari pihak yang jatuh cinta ke sahabatnya itu. Dia lebih milih mati-matian memperjuangkan nama persahabatan dengan membunuh perasaannya sendiri. 

Tapi intinya kembali kepada individu masing-masing, bagaimana cara mereka menyikapi persahabatan platonik itu. Mereka harus tetap punya batasan-batasan. Memang gampang-gampang susah untuk tetap menjaga perasaan masing-masing tanpa dicampuri perasaan lebih dari perasaan sayang ke sahabat, kadangkala sekuat apapun kita bertahan pada pendirian (baca: gw ga akan nih jatuh cinta sama sahabat gw sendiri!), tapi hati manusia ga ada yang tau kan kedepannya? Tuhan maha membolak-balikan perasaan. Ditambah lagi dengan "rasa saling percaya" karena sama-sama tau rahasia masing-masing.

Gw dapet referensi dari salah satu buku, katanya "Hati kita bisa berkhianat, menipu, membutakan kita terhadap motif kita yang sebenarnya. Dan apakah kita benar-benar tahu persis bagaimana perasaan teman kita terhadap diri kita?"
Inget, hati itu bagian tubuh yang paling complicated, yang paling susah untuk diajak kerjasama. Jadi sekeras apapun kita berusaha men-deny kalau kita ga akan terperangkap kedalam lubang yang bernama "cinta", hati ga akan pernah bisa dibohongin. 

Gimana agar kita nggak terlibat kedalam cinta platonik itu?
Buku itu menyarankan, "Jangan terlalu percaya pada diri sendiri. Hindari pernyataan-pernyataan kasih sayang yang tidak pantas atau berduaan dalam keadaan romantis. Bila ada kesulitan, ungkapkan ini kepada orang-orang yang lebih dewasa, bukan kepada teman sebaya lawan jenis".

So, what if we have caught up in the middle of that platonic love? Especially for the one-sided love?
Kalau kita udah mati-matian berusaha untuk menjaga perasaan, tapi nyatanya perasaan sepihak itu tetap muncul, one thing that we should do is: say honestly! Straightforwardly!
Tapi kalau itu dianggap ga menyelesaikan masalah, kita sebaiknya 'jaga jarak' dengan dia untuk membatasi perasaan itu berkembang lebih dalam lagi. But the best of all is, say the truth. Percaya deh berkata jujur akan membuat dia jauh lebih menerima ketimbang terus menutup-nutupi kenyataannya. Atau kalau menurut buku itu (The Friendship Factor),
“Menyingkirlah bila perlu. Kadang-kadang, seberapa banyak pun kita berusaha, persabahatan dengan lawan jenis tak dapat dikendalikan dan kita tahu ke mana arah perkembangannya.” Maka, pada saat itulah kita harus “mundur.”.

Kalimat terakhir sebenernya terdengar kejam ya, tapi mungkin itu yang terbaik untuk kita sendiri maupun persahabatan kita itu. Satu hal yang pasti, perasaan ga bisa dibohongi dan ga bisa diatur. Ia bergerak sendiri dengan begitu lincah tanpa mendengarkan pemiliknya. 

So, kalau kalian ada yang pernah terlibat persahabatan platonik, mungkin kalian punya cara masing-masing untuk mencegahnya menjadi cinta platonik. Skenario terburuk dari cinta platonik yang tak diinginkan adalah rusaknya persahabatan yang telah dibangun selama beberapa waktu, malah mungkin hitungan tahun. Tapi ingatlah, sebaiknya kalian jangan gegabah mengambil keputusan untuk meninggalkan persahabatan yang telah kalian bangun itu, karena kehilangan sahabat rasanya bagai kehilangan beberapa bagian tubuh kita. Just imagine, saat badan kita ga dilengkapi dengan tangan atau kaki, atau even jari-jari yang ga lengkap. Begitu pula saat kehilangan sahabat.

Anyway, yeah, somehow kalau perasaan complicated itu makin mendominasi, mungkin pergi menjauh menjadi solusi yang terbaik. Because life's full of choices and we have to choose even it might hurt us :)




We started as friends
But something happened inside me
Now I'm reading into everything
But there's no sign you hear the lightning, baby

You don't ever notice me turning on my charm
Or wonder why I'm always where you are

I've made it obvious
Done everything but sing it
(I've crushed on you so long, but on and on you get me wrong)
I'm not so good with words
And since you never notice
The way that we belong
I'll say it in a love song

I've heard you talk about
(Heard you talk about)
How you want someone just like me (Bryan echo: just like me)
But everytime I ask you out
(Time I ask you out)
We never move pass friendly, no no

And you don't ever notice how I stare when we're alone
Or wonder why I keep you on the phone

I've made it obvious
So finally I'll sing it
(I've crushed on you so long)
I'm not so good with words
And since you never notice
The way that we belong
I'll say it in a love song

And sing it until the day you're holding me
I've wanted you so long but on and on you get me wrong
I more then adore you but since you never seem to see

But you never seem to see
I'll say it in this love song


1 comment:

  1. "Hati kita bisa berkhianat, menipu, membutakan kita terhadap motif kita yang sebenarnya"
    Hati yang menipu atau sebenarnya malah kita lah yang menipu hati?
    I think we deceive our hearts because we're afraid that our hearts won't be able to endure the pain.

    "kalau perasaan complicated itu makin mendominasi, mungkin pergi menjauh menjadi solusi yang terbaik"
    is it really the best choice? Bukannya akhirnya akan merusak persahabatan juga?
    Kalo memilih untuk berterus terang, ada 3 kemungkinan: ternyata gayung bersambut (syukur deh), ditolak tapi tetep temenan (walopun jarang), terakhir, persahabatan jadi renggang.
    Tapi kalo tiba2 menjauh, kemungkinannya cuma 1 : pihak lain pasti bingung dan ngirain udah gak mau sahabatan lagi.

    Kalo terus terang, walopun hasilnya gak sesuai harapan seenggaknya kita gak penasaran lagi dan bisa moving on. Tapi emang berterus terang itu butuh keberanian.


    Oia, mbak penulis ini pernah punya pengalaman cinta platonik gak? Kalo ada, boleh dong share pengalamannya :)

    ReplyDelete