Friday, May 30, 2014

Octoberlicious Part 1 - Am I Getting Married?

Oktober Tahun 2013 itu bisa dibilang salah satu bulan yang bersejarah dalam hidup gw. 
Yak, salah satunya adalah perubahan status gw dari Miss ke Mrs!

All just went so swiftly and... unbelievably.

Who would've thought anyway that I would get married in October 2013??!!
Even my mom still didn't believe it.




8 - 11 Juni 2013


Cerita bermula dari dikenalkannya gw ke keluarga sang calon suami (waktu itu) yang berkediaman di Malang pas Bulan Juni 2013. Niat hati sih cuma pengen kenalan aja sama orang tua dan keluarganya si mas, pluuus yang paling jadi tujuan utama ke Malang itu adalah jalan-jalan!
Yup, calon suami udah mengiming-imingi segala keeksotisan dan keindahan Kota Malang (ya ya ya, kadar narsis doi emang cukup berlebih kalo udah ngomongin kota kelahirannya). Terus juga kuliner-kuliner yang menggoda. Akhirnya tanpa ba bi bu, ajakannya ke Malang gw terima dengan senang hati walaupun harus menempuh jarak hampir 900 km dari Kota Bandung ini.

Deg-degan? Ya pastilah. Ketemu camer getoooh! Yang bikin gw tambah deg deg ser itu karena status gw gak sepenuhnya orang Jawa (alias ngaku-ngaku doang). Well, well, orang tua gw dua-duanya Jawa aseli tanpa campuran apapun. Semacam madu murni 100% gitu deh. Nyokap berasal dari Kota yang udah hampir mepet Jawa Timur banget, which is Cepu dan bokap dari Kota yang udah mepet Jogja banget yaitu Klaten. Tapi kedua orang tua gw udah bermigrasi ke ibukota sebelum gw dilahirkan, dan.. jadi aja produk kedua mereka (alias gw) punya suku bangsa yang tidak 100%. Maksudnyaaaa?
Bilang orang Jakarta, gak se-betawi itu. Bilang orang Jawa, malah disangka ngaku-ngaku. Alhasil gw pun paling malas kalo ada yang tanya, "Aslinya mana?"
"London."
"Ha?"

(ya mana ada yang percaya gw orang Londooon).

Oke, singkat cerita karena suku bangsa gw yang gak jelas itulah gw beranikan diri untuk berkenalan dengan calon mertua dan calon kakak adik ipar. Apa ada masalah soal bahasa?
Oh, tentu! Mereka pastinya ngomong bahasa Jawa Timur-an, sedangkan gw serba kagok. 
Kalo di Cepu gw bisa sok-sokan berbahasa Bahasa Jawa Tengah dengan tingkat kehalusan cuma 25%, sedangkan di Malang? Gw memilih untuk pake bahasa persatuan Bahasa Indonesia. Bodo amat lah dibilang sok-sok oye karena diajakin Bahasa Jawa balesnya Bahasa Indonesia, daripada sok-sokan Jawa Timur-an yang blas banget gak cocok sama lidah gw.

Jadi dengan menaiki KA Mutiara Selatan yang dilanjut naik bus kecepatan tinggi dari Jombang menuju Malang, sampailah gw dirumah camer. Eng ing eng...
So far ga se-serem yang gw bayangin siih. Keluarga si mas baik semua, tapi soal bahasa masih jadi kendala khususnya untuk bicara sama calon ibu mertua karna si ibu mertua agak susah pake Bahasa Indonesia dan banyak bahasa Jawa Timur-nya yang gw gak mudeng *nangis*.
Tapi intinya semua berjalan lancar, Alhamdulillah.

Yang mengejutkan dari kunjungan gw ke Malang adalah keluarga dari si mas tampaknya udah langsung punya rencana besar, which is marrying their son with me! Bahkan saat gw diajak berkeliling ke tempat saudara-saudaranya, semua udah bahas teknis pernikahan kita nanti yang seriously gw ga berpikir akan secepat itu. Malah, yang bikin terkaget-kaget, Ibu mertua udah punya rencana untuk menikahkan kita pada bulan haji 2013, yaitu Oktober. 

Saat itu gw cuma bisa mesam-mesem sambil bingung. Lah lah lah kok langsung serius banget gitu. Si mas pun gw tanya dia malah gak tau apa-apa soal rencana keluarganya. Dia juga gak kalah kagetnya.
Kaget disini bukan berarti gw blom pernah bahas tentang pernikahan dengan si mas, tapi gak nyangka secepat itu juga. Rencana pasti ada dong, bahkan kita udah mulai nabung. Tapi ya nggak taun itu juga keleeeess.

Kekagetan gw belom sepenuhnya berakhir. Kedua calon mertua bilang mereka akan menyambangi Jakarta untuk ketemu nyokap dan keluarga gw dua minggu dari kunjungan gw ke Malang itu. WHAATTT? Lamaran kaaah?
Katanya sih bukan, cuma mau ketemu aja. Ya gak masalah sih, justru gw sangat menghargai mereka yang udah bersedia mau datang jauh-jauh ke Jakarta.



29 Juni 2013

Tibalah hari yang bikin deg-degan untuk kedua kalinya. Sabtu, 29 Juni 2013.
Kedua calon mertua dan calon om dan tante menyambangi kediaman nyokap di Jakarta. Hampir bisa ditebak, pembicaraan langsung mengarah ke rencana pernikahan. Hasilnya adalah 3 buah kesepakatan:
1. Pernikahan diadakan pada Bulan Syawal (Agustus 2013)
2. Pernikahan diadakan pada Bulan Haji/Djulhijjah (Oktober 2013)
3. Pernikahan diadakan pada Bulan Rajab (sekitar Februari 2014)

Karena hampir gak mungkin pernikahan digelar Bulan Syawal (karena tinggal 2 bulan lagi), dan karena Bulan Rajab dianggap kelamaan, putusan jatuh pada Bulan Haji (Oktober 2014).
Tapi tunggu, Oktober? Whaaaattt? That means 4 months to go!! Sedangkan waktu itu udah akhir Juni! Yang lebih mencengangkan, permintaan dari keluarga besar si mas adalah kita menikah awal Oktober, tanggal 2 Djulhijjah (tepatnya 7 Oktober 2014). So, persiapan cuma tinggal 3 bulan. 
Gimana persiapannyaaa?

Nyokap gw jujur agak kaget juga, wajar lah, secara nyokap dari pihak perempuan dimana acara utama ada di pihak nyokap. Dalam hitungan 4 bulan, semua harus siap dan nyokap seorang single parent. Sedangkan gw berada di kota yang beda sama nyokap, jadi gak bisa memantau dan bantu persiapannya secara terus-menerus. 

Pada akhirnya gw sama si mas yang pusing. Segala tetek bengek untuk akad nikah dan resepsi harus mulai disiapin. Belum lagi cari seserahan dan lain-lain, apalagi kalau mau honeymoon. Kita hampir hopeless dan pengen akad aja (nyiapin dokumen buat akad aja udah ribet banget kelihatannya), tapi nyokap gw pengen ada resepsi kecil-kecilan. Sempet adu argumen juga sih, gw gak mau nyusahin nyokap secara finansial dan tenaga untuk ngadain resepsi, tapi nyokap pasti kepengen ada yang berkesan dari pernikahan gw karena gw anak terakhirnya. 

Jadi akhirnya diputuskan jalan tengah, resepsi sederhana yang 'cuma' undang 300 orang (diluar yang tanpa undangan dan keluarga besar.

Ya, ya, ya, dalam waktu 3 bulan untuk sebuah akad dan resepsi pernikahan yang harus mulai dari nol, mungkinkaaaaah?

(to be continued...)

No comments:

Post a Comment