Tuesday, January 12, 2021

So, how am I now?

Well, maybe it's been a long time since I did not post in English. Not to mention that maybe my English skill has decreased a lil bit too much because I rarely use it. So sorry for any weird or stiff sentences. Perhaps my vocab not as varied as before :))

So, what I'm gonna write this time?

About life, love, or career?

After those heavy storms God gave me some years ago, Alhamdulillah I could enjoy the rainbow right now. 

Wednesday, December 02, 2020

JAPAN TRIP 2019: Preparation

This post just another part of our journey to Japan on April 2019. Maybe it's not a main part, but an important part that decided what we would do and where would we go.

Nah, gue akan coba ulas persiapan kita sebelum traveling agak jauh dan bawa anak balita dengan cara backpacker (alias non tour and travel). Kalau tulisan selama kita ada di Jepang ada disini

So, apa aja sih? Poin-poin pentngnya adalah:

  • Paspor. Penting banget! Perhatikan waktu expired-nya. Minimal paspor kalian masih berlaku 6 bulan lagi, kalau mau aman ya setahun.
  • Itinerary. Nah ini PENTING banget. Istilahnya guidance kalian ya ada di itinerary ini. Kalau gue bikin 2 versi, versi lengkap buat guidance selama di Jepang dan versi singkat buat pengajuan visa.
  • Visa. Kalau paspor kalian masih paspor biasa (kayak gue sekeluarga), visa wajib banget.
  • Berapa lama kalian akan traveling? ini penting banget untuk menentukan banyaknya baju yang akan dibawa, banyaknya uang yang harus disiapkan, dan itinerary terkait hotel dan akomodasi.
  • Musim apa kalian akan kesana? Ini juga critical. Jangan pernah meremehkan musim di tempat tujuan. Kalau tujuan kalian masih sama-sama Asia Tenggara mah nggak masalah. Gue sempet meremehkan spring-nya Jepang yang gue kira udah hangat dan cuaca agak mirip Bandung. Ternyata salah besar! Suhu minimal sampe 7 derajat. Dan gue cuma bawa cardigan dan jaket biasa huhuhu.
  • Internet. Bisa pakai modem atau paketan internet roaming. Gue sih prefer modem. Ini berguna banget sih, nggak cuma buat eksis tapi buat nyari jalan.
  • Tuker uang. Secukupnya aja, jangan kurang dan jangan berlebihan. Kalau kurangpun kalian masih bisa tarik tunai di ATM negara tujuan.
Lengkapnya kalau pengalaman kita traveling ke Jepang kemarin dengan bawa balita umur 4,5 tahun, gue ulas aja ya dibawah, so here we go!

Monday, July 20, 2020

JAPAN TRIP 2019: Nihon e Youkoso!

"For me, traveling is not only about a sightseeing and taking many pictures, but also how we know, understand, and respect others' culture."

Finally I could make a checklist (done) to one of my lifetime bucketlist, which was visiting Japan!

Yap, Jepang itu negara yang sangat ingin gw kunjungin sejak kecil (disamping Mekkah dan Madinah ya). Karena memang  gue termasuk salah satu anime dan J-dorama freak :).

Since I was a child (a primary school grader), I was really crazy towards every little thing about Japan. Sampai-sampai gw tertarik untuk belajar Bahasa Jepang secara autodidak (karena untuk ikut les atau kursus terbilang cukup pricey bagi gw yang dari kalangan keluarga sederhana). 

Jadi waktu itu, paman gue (atau adiknya ibu) ada pertukaran pegawai ke Jepang. Beliau karyawan PT ATI (anaknya PT Astra International). Gw yang masih kelas 3 SD saat itu request oleh-oleh Kimono, hahaha. Tapi pada akhirnya nggak dibawain sih karena harga Kimono ternyata mahal banget. Si Paman ngasih oleh-oleh ibu dompet kulit yang awetnya sampe bertahun-tahun.

Okay, balik lagi ke topik inti. Jadi tanggal 6 - 13 April 2019 kemarin, gw bersama suami dan anak pertama baru aja familypacker ke Jepang. Banyak yang nanya, ke Jepang pakai Tour and Travel atau Backpacker? Gimana tips-nya bisa traveling bawa anak balita? Gimana akses selama disana? Dan lain-lain dan lain-lain.

Untuk persiapannya, gue tulis pada postingan sendiri yaa.. silakan mampir kesini. Kali aja mau iseng-iseng baca hehehe.

Nah, that's why I'll try to write em all mumpung masih anget walau udah lewat setahun dan masih agak inget detail perjalananannya. 

Saturday, May 16, 2020

Makassar, First Flying Experience

Notes: Tulisan ini dibuat Mei 2020, while gue ke Makassar Maret 2012. Udah lama banget kan? Jadi detailnya udah banyak yang lupa!


Part 1
Kerja di Maskapai tapi Belum Pernah Naik Pesawat?

Dari umur berapa kalian pertama kali naik pesawat hayoo?

Buat yang keluarganya berada atau mudiknya diseberang pulau, mungkin udah dari bayi naik pesawat. Nah gue yang mudiknya cuma ke Cepu dan bisa dijangkau naik kereta, sama sekali belum pernah sekalipun nyicip naik pesawat. Disisi lain karena untuk biaya hidup dan sekolah aja nyokap udah mati-matian banting tulang, mana kepikiran sih untuk traveling naik pesawat?

Jadi pertama kali gue naik pesawat itu pas kerja di Sriwijaya Air untuk urusan dines ke Makassar dan itu gratis tis! Semua akomodasi ditanggung kantor, kecuali oleh-oleh. 

Ceritanya setelah 3 bulan jadi pegawai sana, gue yang ada dibagian Quality Controller Service dan membawahi frontliner dan FA (Flight Attendant), dikasih proyek untuk ngasih semacam sosialisasi ke mereka. Mulai dari pelayanan dibagian loket, bagian pasasi, sampai diatas pesawat. Sosialisasi ini berupa penyuluhan supaya para pegawai kerja dengan sungguh-sungguh saat melayani penumpang karena pelayanan yang baik merupakan bagian terpenting dalam bisnis penerbangan disamping safety, tentunya. 

Awalnya sih gue cuma didapuk sebagai PIC proyek. Jadi bikin segala rencana termasuk pendanaannya. Gue yang saat itu masih anak bawang didunia kerjaan, bener-bener masih bingung terutama urusan uang-menguang. Tapi karena dibantu sama rekan-rekan yang baik-baik, alhamdulillah bisa terealisasi sesuai program.

Sosialisasi ini sebenernya terbagi beberapa kelompok. Ada yang ke Surabaya, Pangkal Pinang, Bandung, Semarang, Medan, Makassar. Nah sebagai PIC proyek, suka-suka gue dong mau ikut kelompok mana kan? Huahaha. Jadi gue pilih yang terjauh: Makassar.

Friday, May 08, 2020

Have you ever pooped in the air?

Warning: Postingan ini dibaca jangan sambil makan ya! (walau nggak jorok-jorok amat sih).

Pernah punya pengalaman pup di pesawat?

Yes, I have!
Once, waktu penerbangan dari Denpasar ke Bandung.
Dan itu rasanya... errghhh, menyebalkan.

Biasanya gue selalu menghindari baik pipis maupun pup di pesawat, karena memang nggak ada air untuk cebok atau ngeflush (karena pakai flush udara).
Kalau pipis sih masih mayan sering, apalagi kalau penerbangan mayan lama kayak pas ke Jepang kemarin. Gue yang emang beser, tercatat bisa 5x ke toilet dalam 8 jam! Hahaha.

Nah kalau dan nggak ada air kan repot yaa. Apalagi buat orang Indonesiah kayak kita gini.
Tapi kalau udah kebelet sampe ubun-ubun gimana lagi?

Jadi ceritanya pada Januari 2017 lalu gue sekeluarga (sama hubby dan Arsyad) trip ke Bali. Nah breakfast terakhir di Hotel Kutabex itu enyak banget, semacam shabu-shabu yang dikasih sambel banyak. Yak, gue selalu kalap kalau lihat sambel! Gue ambil sambel sebanyak-banyaknya dan makan dengan view pantai kuta. Sampai lupa diri kalau kebanyakan sambel bikin moncor.

Dan bener aja, efeknya baru kerasa pas di pesawat. Baru juga take off selama 30 menit, perut udah mulai kruwes-kruwes. Yailah.. masa gue harus pup di pesawat sih?
Atau coba sabar dulu kali yaa 1 jam-an lagi kan landing Bandung.
Gue coba meditasi, nahan biar rasa mules itu hilang, paling nggak sampe bandara tujuan lah. Ternyata makin lama makin menjadi. Daann.. yak, segera setelah lampu kenakan sabuk pengaman mati, gue segera ngacir ke toilet.

Finally legaa...

Walaupun tetep sebel sih. Biasa kalau pup perlu air segambreng, nah ini nggak ada air even untuk nge-flush. Akibatnya, tissue toilet habis sama gue sendiri, hahahaha. Dan so pasti, tissue basah sangat amat perlu.
Akhirnya perut gue pun berdamai sampai Bandara Husein Sastranegara Bandung.

Tapi begitu nunggu bagasi, aaaggggghhh... perut kembali mules!
Sial kaan!
Untung aja toilet bandara airnya banyak. Jadi fine fine aja.

Sekian, kisah pup diudara untuk pertama kalinya. Pengennya sih jangan lagi deh, kapok! Tapi who knows ya kalo perjalanan panjang kan mau nggak mau.

PS: Postingan nggak penting, karena udah lama nggak ada postingan baru jadi yang super ringan dulu yaa. Trip ke Jepang masih on-progress, menunggu waktu dan mood untuk nyelesain, hahaha!





Friday, December 28, 2018

PHUKET TRIP 2016: Honeymoon after Having One Child

24 - 28 Januari 2016
CGK - SIN - HKT - SIN - CGK

Sekitar hampir 3 (tiga) tahun yang lalu, ceritanya gue dan suami baru aja balik dari acara honeymoon kedua di Phuket dengan meninggalkan Arsyad bersama neneknya di Jakarta. Pastinya pertanyaan semua orang sesampainya kita di Jakarta dan Bandung ga jauh-jauh dari, "Jadi gimana program adeknya Arsyad? Sukses?"

Huahahaha. Tujuan honeymoon-nya sih bukan itu, tapi kita emang pengen refreshing berdua dari tugas-tugas kantor yang sangat menyita jiwa, hati, dan pikiran *lebaaay*. Dan menurut kita, Arsyad lebih baik nggak ikut dulu, soalnya tau sendiri daerah pantai anginnya kan luar biasa banget terus panasnya Masya Allah. *alasan. Bilang aja emak-bapaknya Arsyad kepengen pacaran lagi*

Jadi ceritanya berawal dari kerjaan suami yang gila-gilaan, yang bener-bener menguras fisik dan mental. Anjlogan sana-sini, mesti berangkat sana-sini di waktu yang seharusnya diisi sama liburan keluarga. Akhirnya dia bilang, "Yang, ayok liburan."

Ajakan yang kayak gitu yang gue tunggu-tunggu. Tanpa pikir panjang gue langsung meng-iya-kan dengan penuh semangat. "Ayok! Kemana?
"Bali yuk?" he said.
"Bali?"not bad sih, tapi kan udah pernah kesana. "Ada rekomendasi tempat lain? Bangkok atau mana gitu?"

Pikiran gue langsung menjelajah, mengingat-ingat tempat wisata yang dulu pengeeen banget dikunjungi tapi belum kesampaian.
Opsinya: Eropa, Jepang, dan... Phuket.

Friday, December 23, 2016

Coffee Philosophy

Jadilah seperti kopi, karena dengan tekanan apapun dia tidak akan melembek ataupun mengeras, namun ia senantiasa akan menyebarkan aromanya yang harum.

Saya bukan pecinta kopi. Namun tak ada salahnya saya belajar dari filosofi kopi ini.

I did not know when did I start of being impatient, easily angry, and disliking people who spoke bad about me.
Dulu saya periang, dan teman-teman berkata saya seperti itu.
Saya tak mudah tersinggung, saya asyik untuk diajak bercanda, dan saya pun tak masalah bila ada yang meledek, karna saya tahu yang mereka katakan itu hanya candaan.

But time flies. I met many different people with each different character.
The melancholic, the phlegmatic, the sanguine, and the choleric ones.
Until I realized that I have changed.

Saya sekarang cepat tersinggung, saya cepat terbawa perasaan (baper), yang menjadikan "ngambek" sudah sangat melekat dengan saya.
Why I can be like this?

Entah. Tapi bukan orang lain yang bertanggung jawab atas sikap saya sekarang. Beberapa dari mereka mungkin turut mempengaruhi sikap saya, tapi saya akan lebih berfokus pada diri saya sendiri.

Jujur, saya sangat tidak bisa bila dikasari, walaupun hanya dengan perkataan. Perasaan saya halus dan sekali ada perkataan yang menyakitkan, saya bisa langsung menangis. Dan parahnya lagi, saya akan selalu ingat perkataan yang menyakitkan itu.
I may forgive, but hardly forget.
Karena perkataan yang membekas itu entah kenapa sangat sulit saya lupakan.

When people left good memories to me, I would never forget that.
Also, when they left some pains, I would never forget.

WORDS indeed are sharper than SWORD if you cannot use them wisely.
So, be careful.

Perhaps, I'm what people do to me.
If they do me well and sincere, I can be more gentle to them.
Otherwise, if they hurt me (even only with words), I may forgive them but the hole they dig would never heal in my heart.
So, speak only some good words, especially to your precious ones.

Lately I realized that between title and content is unrelated at all! HAHAHA. Pardon me.




Wednesday, December 10, 2014

Breastfeeding Equipment: Breastpump

Kegiatan pumping atau pompa ASI emang nggak bisa dilepaskan begitu aja dari kegiatan breastfeeding. Buat para working mom termasuk gue yang pengen terus ngasih ASI eksklusif buat baby, paling nggak sampai si kecil berumur 6 bulan.

Alhamdulillah Arsyad udah melalui 3 bulan dengan ASI eksklusif, tinggal setengah perjalanan lagi nih. Moga ASI bunda bisa terus lancar ya nak.. jadi jangankan 6 bulan, kalau terus lancar Arsyad bisa full ASI Insya Allah sampe 2 tahun.


Pumping atau perah-memerah ASI sangaat banget ditentukan dari media perahnya, Itu menentukan banget kuantitas ASI yang didapat. Perlu diinget, in my opinion, harga nggak selamanya berbanding lurus dengan kenyamanan saat pumping dan kuantitas ASI yang didapat. Initinya sih cocok-cocokan. Belum tentu breastpump yang menurut orang bagus, tapi di gue juga bagus, dan sebaliknya. 


Friday, May 30, 2014

Octoberlicious Part 1 - Am I Getting Married?

Oktober Tahun 2013 itu bisa dibilang salah satu bulan yang bersejarah dalam hidup gw. 
Yak, salah satunya adalah perubahan status gw dari Miss ke Mrs!

All just went so swiftly and... unbelievably.

Who would've thought anyway that I would get married in October 2013??!!
Even my mom still didn't believe it.

Tuesday, January 29, 2013

And, See You Again

And see you again for the next three months.

Not a short time though, but it's not a farewell.

Just wait and see, will time change everything? Only God knows. One thing for sure, it depends on us, depends on you and me, because future can change, anyhow.

Thursday, January 10, 2013

Afternoon Tale

My friend, Nurzaitun, just tweeted this:

"Sometimes I wish I were a-Himono-Onna, so I did not need to feel troubled and taste any sorrow of falling in love."

It looked ridiculous at first, how could she be so troubled when she had someone to rely upon? But later, after any further thought, she was just all true.

When we fall in love, happiness and confusion strangely appear simultaneously. We can just easily happy or sad instead, just like sunshine in a daylight which can change into heavy storm in moments. 

But, yeah, that's the consequences you must take for granted when you dare to love someone and it does not  buy you for free, of course. 

In the end, loving someone is beautiful, indeed, but your anxiety level will increase as well :P 

Friday, July 13, 2012

Farewell

Hello! Again with the spoiler, I'll try to write this one shot story about Alice and her love life. This time is about she and her long ago-crush. Why suddenly I came up with this one? I don't know, I just happened to find a stack of weird sheets of undelivered love letters of Alice which were supposed to send to Gerald Rivers, her desperately-love interest. Due to Alice's cowardliness, they were just left unspoken.

The story was taken place a while before Alice met and best-friended with Dave. Actually Gerry was one of reasons why she finally closed to Dave.


Monday, December 26, 2011

Rhythm of the Rain

Listen to the rhythm of the falling rain, tellin' me just what a fool I've been.
I wish that it would go and let me cry in vain and let me be alone again.



CHAPTER 1
RHYTHM OF THE FALLING RAIN

Rain poured down heavily from the dark cumulonimbus cloud. Thunderbolt stroke halving the sky along with the rumbling sound of the frightening thunder. Cold breeze blew through my skin and made it shivered in chillness. I took shelter in front of bakery shop, crossing and grasping my two arms coated with light brown cardigan. It was rather wet and successfully made me quivering. My hair was dripping wet because I recklessly ran under the rain from nearby bookstore until the thunder freaked me out with its deafening sound and forced me to stop by here.

Friday, November 25, 2011

Unspoken

It may be too much late to say and I have no courage to say it directly to you.

I'd like to say sorry and thanks.

Sorry for belittling you. For looking down on you. For regarding like you're a mere someone in this world. For turning down your kindness. 

Yeah, I'm the worst human being. I have no idea how could I be so mean to you that time. 

I regret that. Remorse that. I wish I could just turn back time and cleared everything up. But it's just too late and no turning back. I should regard you better because you deserved that.

The last but not least, you deserve a better woman, much better than me. I have hurt you badly and I do not deserve your kindness.

Thank you for all you've done to me. I really cherish that. Sayonara.

Wednesday, October 19, 2011

Sayonara, Anata no Koto no Kioku~!

This is my first story that will include Japanese language quite a few. Shinpai shinai, kanji o tsukwanai yo, kondo wa romaji desu. So what kind of story this way? I have no idea either, suddenly it came up with my mind. So maybe there's no beginning of this one-shot-conversation story.

You still remember about Alice story? Right, you may say it's Japanese version of it. Why bother myself just to write the existing story with different characters? I was about to make another spoiler of Alice story, but it didn't seem too suitable since the story took place in Massachusetts, US and there's no way native Americans would use Japanese in their country to speak with each other.

Setting place: Shinjuku-ward, Tokyo Prefecture, Japan
Casts: Miyaharu Natsuko(宮春夏子), Yamazaki Hikaru (山崎光), Uehara Misaki (上原岬), Satou Hana (砂糖花),

CHAPTER 1 - Two Roads, One crossroad


山崎光 : Matte, Natsuko! Yamerou! Yamenasai!

Hikaru ran, pursuing the running Natsuko, he then gripped her left arm tightly.

宮春夏子 : Hanashite!

She tried to let go off his hand, ignoring him and stubbornly got away but to no avail since he was stronger than her.

山崎光 : Ikanaide!... nanika o iu ze!

宮春夏子 : Nanimo iwanai, zenzen. Kanojo ga matteru, hayaku modorenakya! Watashi wa daijoubu, sugoku daijobu desu...

Tears rolled down on her face unintentionally. Hurt... that's the only thing she felt right now. Just like being cut off by a dull knife.

山崎光 : Datto shitara, naze naiteru?! Koko ni mite kure!

She gasped and immediately wiped the tears. Giving up, she finally turned her back away and laboriously looked at the face that she would not see the most.

宮春夏子 : Anata wa nanimo wakacchainai! Oshiereba mada wakacchainai! Soshite anata ga shiru hitsuyou wa inai! Hanashite, onegai...

Her sight looked all blurry, she could not even prevent the tears from falling. Hikaru was bit surprised but he had no choice but to release her hand. She ran and ran, bringing along all pain she held for so long. Finally she realized that it was the time to completely let go off him and close the book of memory of them, forever.

* * *

RIIIIIIIING~ A sudden voice that came from no where ringing. Natsuko immediately opened her eyes and pushed the turn-off button of the alarm to snooze it away. She took a deep breath and breathed it out. 

宮春夏子 : Yume ka? Tsukareta...

KNOCK KNOCK KNOCK. A door knocked. 

お母さん : Natsuko, Misaki-chan ga kuru wa yo... anata mou okite deshou? She waits in living room, Dear. Let's change clothes and meet her!

That's the voice of her mother telling her that someone's coming.

宮春夏子 : Hai, okita desu... doushite aitsu koko ni konai no?

お母さん : Saa ne... chotto isogashii mitai. Anata to iku n deshou? 

She tried to remember what promise she had made to her best friend. 

宮春夏子: Ara-! *facepalms* Hai, hai, oboete yo! juu-fun de okay da, aitsu ni oshiete kureru~

お母さん : Ii yo. Toriaezu, hayaku!

(to be continued...)



Tuesday, October 11, 2011

And I Failed Again For the Numerous Times

Sesuai dengan janji gw dua minggu lalu yah, gw akan ngasih tau kelanjutan dari tahapan rekruitasi di PT. XYZ itu. Seperti yang udah gw duga, ternyata kali ini pun gw belum beruntung. Gw gagal lagi untuk ke proses selanjutnya. 

Gagal, gagal, dan gagal. Ini udah kesekian kalinya gw gagal dalam tes kerja. Jujur, gw sempet down, tapi gw berusaha berkhusnuzon dan mengambil hikmah dibalik semua kegagalan ini. Gw percaya sama pribahasa, 

"Gagal adalah kunci menuju sukses selama kita tak berhenti mencoba."



Inget Thomas Alfa Edison yang gagal pada percobaan 9999 bohlam lampunya sebelum akhirnya dia berhasil? Ingat juga Michael Jordan yang 9000 kali gagal memasukkan bola ke ring sebelum akhirnya menjadi bintang NBA? 

Gw percaya itu. Gw nggak akan terlarut dalam kegagalan ini. Gw akan berusaha lebih baik lagi dengan seluruh kemampuan. Inna ma'al usri yusro, sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan. Kuncinya adalah sabar, ikhlas, dan jangan pernah menyerah. Semangat!


Tuesday, October 04, 2011

My [Damned] Colorful Day

October 3, 2011

What's more I could say towards this day? Red, blue, grey, and even black colored the first day of the week!

Hari Senin itu dimulai dengan pertandingan big match yang gw tunggu-tunggu antara tim kesayangan gw Juventus melawan rival terberatnya di Serie A, AC Milan. Berbekal tidur cuma 2 jam kurang, mata gw tumben-tumbennya langsung refleks terbuka lebar saat alarm di hape bunyi sekitar jam 01.30 WIB. Tanpa buang waktu, gw pun segera menyetel channel yang menyiarkan il grande partita itu.

Pertandingan ternyata udah dimulai. Dengan deg-degan gw menyaksikan jalannya pertandingan. Swear, gw kaget dengan permainan anak-anak Juventus ini. Mainnya bener-bener impresif dan militan! Jarang ya gw ngeliat Juve kayak gini beberapa tahun terakhir yang bener-bener sangat ngotot untuk menang. Well, mungkin gw akan cerita tentang jalannya il grande partita ini pada post selanjutnya. Intinya Juve menang 2-0. Gw sangat bersyukur sekaligus senang karena ini bakal jadi mood-booster gw selama seminggu. 

Pertandingan selesai sekitar jam 4 pagi dini hari. Tadinya gw mau tidur sebentar, tapi ternyata nggak ngantuk plus udah adzan Subuh. Akhirnya gw solat dulu dan berencana tidur setelahnya, seenggaknya satu jam lah soalnya gw harus berangkat pagi-pagi untuk menghadiri undangan tes dari suatu bank BUMN yang tempatnya lumayan jauh dari rumah. Ternyata gw nggak bisa tidur karena masih terlarut dalam euforia kemenangan. Dodol ya, bukan nyiapin buat tes malah terlena sama pertandingannya Juve. 

Jam 06.15 pun gw berangkat dari rumah dan langsung menuju shelter busway terdekat. Ya, inilah kendaraan andalan gw karena gw nggak bisa nyetir motor atau mobil. Singkatnya, gw baru mulai tes sekitar jam 10.30'an lah. 

Jadi ceritanya hari itu gw dijadwalkan untuk tes tahap 4 di bank punya pemerintah itu, yaitu Leaderless Group Disucssion atau disingkat LGD. Jujur sih, sebenernya gw udah pengen mundur dari tahapan rekruitasi disini dari awal karena gw agak nggak yakin. Selain nggak yakin karena sistem kontrak yang bisa dibilang sangat mengikat, gw pun denger beberapa 'cerita miring' tentang bank ini. Ya, pada awalnya gw milih untuk bersikap "Whatever you say lah." Tapi entah kenapa setelah interview awal berakhir, gw kok rada ngerasa nggak yakin. Apalagi pas dia nanya, 

"Bersedia ditempatkan diseluruh Indonesia?"
"Umm... Ya."

Gw ngerasa udah ngasih jawaban bullshit yang nggak dari hati. Apa gw tega melancong jauh-jauh dan ninggalin nyokap gw di Jakarta sendiri? Oke lah, sekarang masih ada kakak, tapi rencananya kakak gw mau pindah tahun depan dan otomatis tinggal kita berdua doang disini. Kalo gw melancong ke ujung Indonesia atau somewhere in it, nyokap gw kasian lah. Selain itu udah cukup lah gw ninggalin nyokap selama 5 tahun untuk kuliah, masa iya gw harus miber sana-sini lagi. 

Setelah berpikir jernih dan mencoba mempertimbangkan saran dari temen gw yang pernah kerja disana, gw pun mulai ragu. Bukan karena gw berhasil dipengaruhi, tapi gw punya alasan yang sangat logis. Ternyata gw berhasil melewati hingga tahap 3, karena gw anggep itung-itung latihan lah. Nah pas tahap 4 ini keraguan gw makin menjadi. Keinginan untuk nggak ngelanjutin rekruitasi disini pun makin membuncah. Pada malem sebelum tes, bukannya belajar sesuatu, gw malah buka-buka berita sepakbola, ngeliat gimana persiapan Juve untuk pertandingan besoknya. Dan gw pun sempet buka thread yang kontra dengan bank tersebut. Entah gw cuma pengen berusaha nyari pembelaan atau apa, pokonya gw jadi semakin yakin kalo gw nggak pengen disana. Tapi gw masih tetep berharap yang terbaik dari-Nya. 

Keraguan gw pun menjadi kenyataan. Saat tes dimulai, entah kenapa ada suatu inexplicable effect yang terjadi sama gw. Emang sih FGD, LGD, atau sejenisnya adalah salah satu tes kerja yang paaaaaling nggak gw suka. Tapi biasanya gw masih bisa mengatasinya. Nah yesterday seemed to be the opposite. Inexplicable effect itu muncul saat gw mulai baca kasus yang dikasih. Tiba-tiba aja tangan gw gemeteran, otak nggak fokus, dan pengen lari dari tempat itu. Akhirnya waktu untuk menganalisis sendiri habis sementara gw hampir belom nulis kesimpulan apa-apa di kertas. Gw nggak bisa menganalisis kasusnya, entah kenapa. Ide sama sekali nggak muncul dari otak. Akhirnya gw nyerah dan akting sok cool, sambil dengerin temen-temen yang lain ngeluarin pendapatnya. Selama yang lain sibuk bercas-cis-cus ngeluarin pendapat, tiba-tiba gw ngerasa mual. Darah seakan ninggalin kepala (gw yakin kalo gw ngaca saat itu, muka gw pasti keliatan pucet), dan parahnya gw mau muntah. Pala terasa pusing dan satu-satunya yang kepikiran diotak gw adalah gimana caranya gw bisa keluar dari ruangan itu dan nggak balik-balik lagi. Gw terus ngerasa begitu sampai akhirnya giliran gw untuk mengemukakan pendapat pun tiba. Logisnya, kalo gw sendiri sama sekali nggak tau apa yang mau diomongin, gimana gw bisa ngeluarin pendapat? Coretan dikertas itu sama sekali nggak ada kesimpulannya dan super kacau. Tapi gw harus ngomong tanpa tau apa yang harus diomongin. I took a very deep breath and carefully said, "Bla... bla... bla...". Super singkat dan sama sekali nggak berbobot. I knew that, the only thing I wanted was getting out that room sooner. Gw bahkan nggak peduli lagi dengan tes itu. Disisa diskusi pun gw lebih milih diem. Saat itu gw memutuskan kalo gw nggak akan lanjut ke tahap selanjutnya. And that's very obvious. Gw satu-satunya yang 'menonjol' kepasifannya dan yakin lah si penilai udah nyoret nama gw saat itu juga. 

Tes pun selesai dan gw segera ingin meninggalkan gedung yang super gede itu. Gw ngerasa pusing dan nyesel dengan performa gw yang payah-sepayah-payahnya. Tapi jauh dilubuk hati, gw ngerasa lega. Seakan ini mempertegas keraguan gw untuk kerja disini. Kaget ya kok bisa-bisanya gw menghancurkan performa gw sendiri separah itu. Tapi itulah yang terjadi. 

Sepulang dari sana, gw kira kebete-an gw udah berakhir (bete karena kedodolan gw di LGD tadi). Tapi ternyata itu belum selesai. Jadi gw mampir ke Plaza Semanggi untuk solat karena gw yakin waktunya nggak akan keburu kalo solat dirumah. Trus juga perut gw keroncongan dan tergoda untuk makan di restoran seafood favorite gw. Udah kebayang ya 'Cumi Goreng Cabai Garam' yang super enak itu dipikiran gw. Nyampe di restoran, gw pun duduk sendiri (maklum lah, namanya juga jomblo, jadi ngeresto pun sendiri ). Sebenernya gw ngajakin salah satu sahabat gw dari jaman SMA, tapi dia nggak bisa. Tanpa buang-buang waktu, gw segera manggil pelayannya dan memesan menu favorit gw itu. Tapi apa yang terjadi? Si mbaknya bilang,

"Cumi-nya lagi nggak ada Mbak."

Damn. Tujuan gw dateng ke restoran ini kan cuma mau makan itu. 

"Nggak ada?" dengan sorot kecewa gw pun kembali ngeliat daftar menu dan nyari menu lain dengan harga yang tetep 'bersahabat' tapi enak. Oke, disana ada Ayam Fillet Cabe Kering. Gw pun pesen itu. Dan apa jawaban si waitress? 

"Fillet-nya juga nggak ada. Ikan aja Mbak..."

Amit-amit. Ini restoran niat jualan nggak sih? Masa semuanya nggak ada! Gw udah kesel aja pengen pergi dari restoran ini, selain karena mood gw yang lagi super nggak bagus. Tapi nggak lucu juga dong udah duduk tiba-tiba pergi. Gw pun terpaksa ngeliat menu yang udah nggak menarik perhatian gw itu. Akhirnya mata gw tertuju pada kata "Omelet Seafood" dengan harga yang sama dengan cumi favorit gw dan ayam fillet itu. 

"Omelet seafood deh, minumnya es teh tawar."

Si waitress nyatet pesenan gw di semacam iTouch or whatever itu lah. Gw masih nggak yakin sama yang gw pesen sebenernya dan masih nyari-nyari menu lain.

"Baik, Mbak, saya ulang ya pesenannya. Nasi putih satu, omelet seafood satu, dan es teh tawar satu."
"Eh omelet seafood-nya kayak apa ya?" 

Gw penasaran karena gw kira omelet seafood itu telur dadar yang diisi berbagai seafood yang bikin membangkitkan selera makan.

"Semacam fu yung hai gitu.."
"Haa?" 

Gw kaget. Gw nggak suka saus fu yung hai karena rasanya bener-bener ngebosenin. Akhirnya gw cari menu lain dan pengen ngerubah pesenan gw.

"Umm... saya ganti deh Mbak, pesen Udang Goreng Cabai Garam aja." gw pun ngalah ngeluarin uang lebih daripada harus makan fu yung hai.

Tapi tau nggak si waitress itu jawab apa?

"Nggak bisa Mbak, pesenannya udah tercetak."

HELL. Apa dia bilang? Seketika gw langsung naik darah tapi thanks to my very good emotion controller, gw pun masih bisa menahan kebetean gw yang hampir meluap itu. 

"Nggak bisa? Saya nggak bisa ngerubah pesenan?"
"Iya."

Tanpa ngomong maaf atau apa si waitress itu berkata dengan sok innocent-nya yang bikin gw pengen segera pergi dari tempat itu. Macam apa lagi ini? Masa pelanggan nggak boleh ngerubah pesenan? Padahal kan makanan belum dibikin. Sempet kepikiran untuk protes ke supervisornya, tapi gw urungkan niat gw itu karena nggak mau nyari gara-gara. 

Dengan ekspresi yang udah terlanjur sebel, gw pun bilang. "Ya udah lah, itu aja."
Si waitress pun ngulang pesenan gw. Tanpa senyum, gw pun cuma nanggepin dengan ekspresi datar.

Akhirnya setelah sekitar 30 menit nunggu (sumpah ini tambah bikin emosi), pesenan pun datang. Mau tau bentuk omelet yang sama sekali nggak membangkitkan selera makan itu? 


Entah ya gimana kalian ngeliatnya, yang jelas gw sama sekali kecewa lantaran harga dan menu yang kurang sesuai itu. Bagi gw ini nggak lebih dari telur dadar yang dicampur tepung dan dikasih udang kecil beberapa buah dan disiram saus fu yung hai. 

Mungkin not so bad rasanya, tapi buat gw yang emang udah bete sama si waitress, bikin gw ilang feeling buat makan. Tau gini gw mending makan di restoran Jepang yang karuan memuaskan deh. Dengan agak terpaksa gw pun makan. Nggak begitu selera sih karena tiba-tiba aja gw ngerasa kenyang. Tapi tetep gw paksa untuk makan dan hasilnya gw pun ngerasa 'eneg'. 

Hah. What a day. Setelah paginya gw bersuka cita atas kemenangan Juve, seharian setelahnya adalah hari terburuk gw. Serentetan kejadian menyebalkan terjadi. Tapi okelah, seenggaknya kemenangan itu masih bisa jadi pengobat hati bagi gw walaupun lagi-lagi kegelisahan melanda,

"WHAT? IT'S OCTOBER ALREADY??!!!" 


Thursday, September 29, 2011

Kisah Rekruitasi di PT XYZ

Nggak biasanya gw posting sesuatu yang mengisahkan tentang proses rekruitasi di suatu perusahaan yang belum jelas hasil akhirnya. Selama ini gw selalu berikrar kalo gw baru akan posting kalau perusahaan itu udah officially meng-hire gw. Tapi rasanya gw butuh sedikit curhat disini.

Sebutlah perusahaan yang gw ikuti seleksinya adalah perusahaan XYZ (masih rada 'tabu' aja nyebut nama official nya selama masih belum jelas hasil akhirnya), sebuah perusahaan non-governmental yang punya anak perusahaan sangat banyak. Kenapa tiba-tiba gw mau share di blog padahal gw baru sampe tahap sangat awal?

It's okay. Belum tentu juga ada yang baca postingan gw kali ini .

Sunday, September 25, 2011

Time to Balance the Imbalance

Setelah seminggu terakhir yang sangat hectic dan cukup membuat gw 'lupa' sejenak sama kehidupan rohaniah, gw pun mulai coba kembali menyusun hidup gw yang sempet kocar-kacir ini. Faktor gw yang harus absen beribadah karena period bulanan (yah namanya juga wanita) itu sangat berpengaruh. Emosi nggak terkendali, hypersensitive... entah lah. Gw seperti kehilangan pegangan. Biasanya kalo kondisi labil seperti itu, gw selalu merenung, berkomunikasi sama Allah lewat solat. Tapi karena gw lagi nggak bisa solat, jadi beginilah. Berdoa tanpa solat pun rasanya tak cukup untuk mengekang emosi gw yang sangat fluktuatif ini. 

Tadi pagi gw cukup terhenyak. Gw emang udah kembali solat lagi sejak kemarin siang. Ceritanya gw dipanggil buat ikut tes di suatu perusahaan besar dan...  terkenal juga walaupun bukan milik pemerintah. Sebelumnya gw pernah denger selentingan miring tentang proses rekruitasi disini. Katanya kalau nggak punya link 'orang dalem' itu susah. Kira-kira pembicaraan gw tadi pagi begini:

Sepupu: Wih lo tes di PT XXX, Tin?
Gw: Yoa... tapi katanya kalo nggak ada orang dalem susah...
Sepupu: Ngapain takut? Kan elo juga punya backingan.
Gw: Siapa? 

Gw nanya dengan nada pesimis. Backingan darimana? Wong dari silsilah keluarga gw nggak ada kok yang pernah kerja di perusahaan itu.

Sepupu: Allah.

Jawaban sepupu gw itu bener-bener bikin gw terdiem. Astagfirullah... kenapa gw lupa kalau Allah adalah penolong yang paling kuat diantara yang terkuat? Kenapa bisa-bisanya gw melupakan tentang hal itu? 

Gw pun langsung beristigfar. Mohon ampun pada Sang Pemilik Alam Semesta ini. 

"Astagfirullah... Astagfirullah...maafkan aku yang telah melupakan-Mu wahai Tuhan yang Maha Segala. Sesungguhnya hamba percaya bahwa sebaik-baiknya penolong hanyalah Engkau..."

Gw pun berikrar untuk kembali ke kodrat gw sebagai makhluk ciptaan-Nya. Gw akan kembali menyeimbangkan hidup gw yang sempet kacau seminggu terakhir ini. Insya Allah, Aamiin.


Sunday, September 18, 2011

All For My Foolishness and I Deserve That

Being completely engrossed of something I shouldn't for quite a time is all senseless. Getting so worked up without realizing how hurt my feeling was, neglecting all the guilt I did without considering how many people I hurt, and enjoying all the pseudo-pleasure I had. And when I was awaken from those long reveries, I tasted one thing: the dreadful emptiness.

Those laughter were finally gone with nothing remained. I had just lived in hallucination which wholly blind me from seeing the reality. I wished this emptiness was only in my dream, I wished I would soon wake up from this long nightmare, I wished someone would bring me around from this bitter daydream. 

But, this was all real. Not a hallucination. 

 I cried and cried unbelievably, trying hard not to believe that it's real. I begged and begged that someday I could taste those moments of happiness for the second time. I plead and plead that this unpleasant reality would  soon end and turn it into a laughter. I wished and wished hopefully I could get back everything I lost.

But I knew that would never happen.

I wrote down a note, crying regretfully about not treasuring well the moments I spent. I listened to the songs which all just reminded me of my anguish. I remembered every single piece of those illusions. Again and again, without realizing I had chopped my heart into chunks, I had opened the scars and wounded them all over again, I had flushed the hollow in my heart with lemonade, and I had cracked the stitched up wound unpityingly.  

I had never learned how to be a masochist until I met you.

It took quite long time just to realize that those foolishness I did was all meaningless. I wasted my time just to  lament something that would impossibly happen. 

With my eyes open now, I eventually realize that my heart is too precious to be broken, my eyes are too valuable just to shed a single tear over the senseless thing, and my mind is too strong to be ruined for the second time.

"The reality is too cruel, sometimes. But that's a lot of better than the sweet illusion."