Tuesday, July 08, 2014

Tuhan, Kenapa Aku Diuji?

Dua bulan terakhir ini sejak kenaikan jabatan suami, air mata seolah jadi teman setia melebihi bantal dan guling. Gimana nggak?
Pekerjaannya seolah monster yang merebut semua waktu untuk kami berdua.
And here, I eventually realized that money can't buy everything:
Happiness, togetherness, health, love...


Seringkali pun saat suami akan pergi dinas, pasti diiringi dengan air mata.
*duh, lebay deh kayak mau ke medan perang ajeee...*
Tapi seriusan deh, bukannya mau bawa-bawa alesan karena gw hamil, tapi istri mana sih yang betah ditinggalin terus? Pasti lah ada titik jenuhnya.

Tapi di setiap kepergian dines itu pada akhirnya gw berusaha ikhlas dan maklum walau dalam hati nangis darah. Ngerti banget sih, bukan mau suami gw juga melanglang buana terus-terusan dan ninggalin istrinya yang lagi hamil gede sendirian. Tapi kalo udah perintah atasan, mau bilang apa? Mau ngelarang sampai seratus juta kalipun kayaknya nggak akan ngaruh. Kalo udah gitu biasanya gw cuman mewek, of course setelah ngambek dulu ke suami.

Nggak bijak juga sih gw ngambek ke suami, tapi gw kan butuh pelampiasan ngambek daripada gw nangis dan gila sendiri, pilih mana? Tapi unit-nya itu terlalu kejam dan gw merasa terus-terusan terdzalimi. Malah saking kesalnya gw sampe minta dia resign dan cari kerjaan lain. 
Well, maybe resign is not a best solution right now, but do we have another option?
Yeah, we do. There's an only solution: keeping faith a whole day and patiently let hubby living in a jet plane.
Pada akhirnya emang gw harus punya satu kontainer stok sabar, eh bukan satu kontainer lagi ding malah seluas langit dan sedalam lautan yang bener-bener tak terbatas dan tak akan habis.

Bulan Ramadhan ini tampaknya kita malah lebih diuji (lebih tepatnya sih gw sebagai pihak yang ditinggalin). Menjelang Ramadhan, kira-kira H-13, suami malah dinas dadakan ke Jember sampai H-4 puasa. Padahal beberapa hari sebelum ke Jember, dia ditugaskan ke Purwokerto. Sampai speechless nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Seperti biasa, gw nggak ikhlas. Tapi kok disaat dia mau pergi ke Jember itu banyak banget ujiannya, kayak ban motor bocor lah padahal udah mepet jadwal kereta-nya berangkat. Akhirnya gw pun mengikhlaskan suami dines walaupun dengan berat hati daripada kenapa-kenapa nantinya. 

Ujian nggak berhenti disitu. Baru aja semalem ketemu suami, tiba-tiba ada dinas dadakan lagi. Walaupun nggak sampe 24 jam, tapi rasanya hati ini miris. Air mata terus keluar dan nggak henti-hentinya gw ngambek ke suami. Ya Allah, kenapa ujian ini masih terus ada? Nggak bisakah aku bersama suamiku lebih lama lagi? - dalam tangis gw berdoa seperti itu. 

Pernah baca suatu ayat,
"Apakah manusia mengira mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?" (QS. 29:2)
Dan benar saja, lepas dua hari dari dinas ke Purwokerto itu datang lagi berita menyebalkan, suami harus dines selama Ramadhan full sampai habis lebaran beberapa hari. Rasanya bagai diguyur air terjun plus disambar geledek. Padahal gw udah memimpikan bisa ibadah bareng suami setiap hari, ternyata musnah sudah. Tapi seperti sebelumnya, pada akhirnya gw cuma bisa mengikhlaskan. Gw terima dengan sepenuh hati jadwal dinasnya itu, toh gw pikir kita masih bisa ketemu tiap weekend.

Tapi ternyata semua emang nggak semulus yang dibayangin. Jujur, sejak kenaikan jabatan suami, gw seperti seakan nggak punya hak untuk berencana ataupun bermimpi. Hampir semua buyar. Sekitar 90% dari hal-hal yang udah gw rencanakan atau kita berdua rencanakan, berakhir gagal. Apalagi penyebabnya kalo bukan si monster bernama pekerjaan itu.
Baru aja gw dapet kabar kalau weekend ini suami disuruh tugas ke Medan.
Bisa ditebak apa reaksi gw?

Jadi suami tadi nelpon dan ngabarin sekilas tentang keharusan dia dinas di Medan. Dia langsung tanya perihal berangkat dari Bandung atau Jakarta. Karena masih dalam kondisi shock dan marah, gw pun langsung jawab,
"Nggak usah berangkat."
Tapi ya pastinya suami bilang itu perintah atasannya. Jawaban gw tetep nggak berubah, "Nggak usah berangkat." Entah kenapa tiba-tiba gw sekeras itu. 
Mungkin itu puncaknya, puncak kekesalan. Belum puaskah pekerjaannya ngambil waktu kita? Ngambil weekend kita? Udah berapa weekend yang direbut sama monster pekerjaan itu? 
Dan lagi... kenapa mesti weekend ini? Weekend disaat gw betul-betul butuh seseorang yang paling berharga dalam hidup untuk melalui satu hari bahagia gw dalam setahun. 

Balik lagi, percuma aja gw bersikap egois begitu. Gw sadar betul kok, nangis-nangis ngelarang suami pergi dinas juga nggak ada gunanya. Ini perintah atasan, kalo nggak dipatuhi ya bisa kena sanksi. Yang rugi ujung-ujungnya kita juga. Pada akhirnya gw pun nggak punya pilihan lain selain membiarkan si monster pekerjaan itu kembali merebut waktu kita.

Yang paling bikin gw nggak ikhlas untuk dinas-nya weekend ini adalah:
1. Tepat dia disuruh dinas, itu hari dimana gw udah merencanakan sesuatu di hari ulang tahun gw yang gw pikir bisa dirayakan bareng suami. Nggak perlu mewah, cuma perlu kebersamaan aja dia ada disamping gw.
2. Weekend itu satu-satunya waktu gw bisa ketemu suami karena selama sebulan ini weekdays pun kita harus LDR-an. Kalo weekend mesti dinas juga, gw mesti weekend-an sama kasur dan guling gw lagi seperti weekdays sebelum-sebelumnya? Kasian banget ya, berasa nggak punya suami aja. Berasa kayak pas gw jomblo dan nggak ada yang ngajakin weekend-an.

Jadi harus gimana?

Itu juga pertanyaan yang dilontarkan suami. Pertanyaan yang retoris, menurut gw. Apa perlu gw jawab?
Kalo bisa gw jawab sih, bakal gw jawab,
"Ya nggak usah dines, nemenin aku aja di Bandung."
Tapi balik lagi, apa gw punya pilihan buat milih? Apa suami punya pilihan untuk milih? Nggak kan?
Terus kalo udah stuck dipertanyaan itu, selanjutnya pasti suami yang merajuk,
"Apa aku nggak usah kerja aja biar bisa nemenin kamu terus?"

Sumpah ya itu pertanyaan yang bikin gw meradang sedunia. Apa itu solusi? Dia juga tau kan itu nggak mungkin. Gw juga tau itu nggak mungkin. Manusia nggak bisa cuma hidup dari cinta, tapi uang pun nggak bisa beli cinta. Gimana pinter-pinternya kita bisa menyeimbangkan dua hal itu.

Dilematis memang. Pastinya gw juga nggak mau suami kehilangan pekerjaannya dong. Tapi apa nggak ada jalan lain daripada makan ati terus kerja ditempat ini? Solusinya adalah pindah kerja ke unit lain, ke perusahaan lain, atau unit-nya suami bubar sekalian biar dia bisa gabung ke unit lain.
Sejauh ini gw berusaha keras untuk bertahan dengan kondisi yang harus siap ditinggal setiap saat. Dalam keadaan hamil gede, jauh dari orang tua, dan nggak ada keluarga blas itu rasanya sesuatu banget untuk ditinggal terus. Tapi apa gw punya pilihan selain bersabar?
Untuk hari ini rasanya gw udah sangat susah untuk bersabar. Apa bisa jalanin hidup kayak gini terus?
Selalu trauma kalau ada dering telpon dari hape suami, selalu galau kalo ngeliat suami baca-baca berita tentang kerjaannya via watsap. Rasanya pengen saat weekend gw buang jauh-jauh hapenya sementara waktu sambil bilang,
"Selama lima hari dalam seminggu, aku udah nggak sama kamu. Bisa nggak hapenya disingkirin dulu? Bisa nggak masalah kerjaan dilupain dulu?"
Tapi gw cuma berani ngomong itu dalam hati. Miris ya.


Kadang gw sangat amat iri dengan moster bernama pekerjaannya itu. Dia bisa setiap saat dapet perhatian suami dan selalu bisa berdekatan dengan suami 7x24 jam. Sedangkan gw hanya bisa beberapa jam dalam sehari, itupun kalo suami lagi nggak dines. Kalo dines ya 2x24 jam saja. Oh bukan, disela-selanya itu pekerjaannya pun masih bisa nyuri waktu kita.

Ya Allah.. ini memang dilematis. Tapi memang penyebab utama kami bertengkar ya kebanyakan gara-gara si monster itu. Dan pada akhirnya memang gw yang lebih sering ngalah demi 'pekerjaannya' itu. Kalau gw udah mulai protes, suami pun komplain dia tertekan karena gw. Jadi tetep, the winner is his work. 

Kalo aja waktunya bisa gw beli, dan kalau aja gw punya uang banyak, gw akan beli waktunya yang selama ini didedikasikan buat pekerjaannya itu, jadi kita bisa sama-sama terus. Tapi hey, it's a real world. Pekerjaannya itu menghasilkan uang, dan kita butuh uang, gw nggak menampik itu.

Entah kapan semua ini berakhir. Gw cuma pengen hidup lebih tenang. Gw cuma pengen sang suami cuma gw yang punya, nggak tersetir oleh kerjaannya. At least ada proporsinya lah yang seimbang antara kerja dan keluarga. Istri nggak cuma butuh nafkah lahir, tapi batin juga. Kalo istri yang kadang nuntut perhatian (nafkah batin) selalu dibilang menekan, terus gw harus apa dong? *yaudah sih, tinggal mewek sambil gigit guling dikamar*

Walah, kenapa ujung-ujungnya malah curcol? Gustiiii... 
Bulan puasa yang harusnya diisi sama ibadah, malah diisi sama tangisan. Pengennya sih cepet udahan galaunya. Tapi ya itu tadi, posisi gw sendirian. Bener-bener butuh bahu buat bersandar. Siapa lagi hayo kalo bukan bersandar ke Allah dan ke suami sendiri?
Kalo kondisinya suami lagi nggak ada, ya terpaksa bersandar ke guling, selain curhat sama Allah pastinya. 

Tapi well, well, Allah nggak akan membebani manusia diluar kemampuannya. Walau mungkin buat gw ini terasa berlebihan, tapi karena Allah yakin gw masih mampu mengatasi jadi gw diberikan ujian ini. Ujian untuk bisa lebih bersabar lagi dan lebih kuat lagi. Nggak cuma bisa ngerengek-ngerengek kalo ditinggal dines, nggak bebanin suami lagi dengan protes-protes karena gw cemburu sama pekerjaannya. 

Well, as a mom-to-be, I shall grow stronger. How could I protect my child if I still stay like this? Fragile and weak. 
Semoga badai ini segera berakhir. Hari-hari kelabu ini segera berganti cerah. Bukankah Tuhan menciptakan pelangi yang indah setelah hujan yang deras?
Inshaa Allah, aamiin.

- Bandung, 7-8 Juli 2014 - 

No comments:

Post a Comment