Thursday, October 27, 2011

Harga Sebuah Loyalitas yang Tanpa Batas - Alessandro Del Piero



Siapa yang tak kenal dengan sang maestro il capitano Alessandro Del Piero? Seorang yang bukan fans sepakbola pun kemungkinan besar kenal dengan tokoh yang rendah hati dan sangat dikagumi ini, baik permainan ciamiknya dilapangan maupun kepribadian luar biasanya di luar lapangan. 

Pemain yang lahir di Conegliano, Veneto, Italia, pada 9 November 1974 ini memang sangat identik dengan si hitam-putih. Kalau kita mendengar kata 'Juventus', pasti yang terbayang dipikiran kita adalah sang kapten 'Del Piero', atau sebaliknya. Juventus adalah Del Piero dan Del Piero adalah Juventus. 


Bergabung dengan Juventus sejak tahun 1993 dari Padova, Del Piero telah menjadi legenda tersendiri dihati para Juventini. Del Piero pun telah mengukir banyak sekali sejarah dan prestasi untuk Juventus. Skill yang luar biasa, tendangan yang akurasinya tak perlu dipertanyakan lagi, rendah hati dan tak pernah bermain kasar itulah yang menjadikan Del Piero seorang legenda. Bahkan nama besarnya melebihi legenda Juve yang lain seperti Michael Platini, Paolo Rossi, Claudio Gentille, ataupun yang lainnya. 

Del Piero adalah seorang juara sejati. Hampir semua titel pernah ia menangkan, mulai dari 7 Scudetto (Juara Serie A), 1 Cadetti (Piala Serie B), 4 Supercoppa Italiana, 1 Coppa Italia, 1 Liga Champions, 1 Piala Super Eropa, 1 Intercontinental cup, 1 Piala Intertoto, dan 1 Piala Dunia, yang kesemuanya diraih dengan berseragam hitam putih. Hanya Piala UEFA dan Piala EURO yang belum pernah ia menangkan. Gelar individualnya pun tak kalah banyak. Ia pernah mendapatkan penghargaan Golden Foot Awards tahun 2007, Best Loved Football Player di tahun 2001 dan 2008, FIFA 100, dan lainnya. 



Kesetiaannya pun tidak kalah dibandingkan dengan prestasinya. Saat Juve harus terdegradasi ke Serie B karena skandal Calciopolli yang sempat mengharu biru sepakbola Italia, sang maestro memilih bertahan dan membantu Juve kembali promosi ke Serie A ditahun berikutnya. Bahkan, ia pun tidak keberatan gajinya harus dipotong karena neraca klub yang kacau balau setelah ditempa skandal yang penuh konspirasi tersebut. Sepanjang pengabdiannya selama 18 tahun ini, tidak sekalipun ia pernah mengecewakan hati para Juventini dengan mengeluarkan statement ia akan pindah ke klub lain, seperti yang dilakukan beberapa koleganya.

Kejeniusannya di lapangan dan kepribadian rendah hatinya diluar lapangan membuat Del Piero disegani tak hanya oleh para Juventini, namun para pemain dan fans klub sepakbola lain. Tidak banyak pemain yang mendapat standing ovation di Bernabeu dan Old Trafford, dan mungkin hanya Del Piero satu-satunya pemain lawan yang mendapat standing ovation itu dari para Madridista dan para fans MU. 

Bahkan banyak yang menjadi fans Juventus karena faktor Del Piero ini. Makanya, sewaktu Andrea Agnelli (Presiden Juventus) mengeluarkan statement yang bisa tergolong kontroversial mengenai masa depan Del Piero, para Juventini di seluruh dunia berang. Statement apa yang dikeluarkan Agnelli?

Dia menyatakan, “Hubungan unik antara Juventus lama dan Juve baru adalah kapten kami, Alessandro Del Piero. Dia ingin tinggal bersama kami selama satu tahun lagi, dan ini akan menjadi musim terakhirnya memakai jersey hitam-putih,” ungkap Agnelli dalam keterangannya pada pertemuan pemegang saham. (Sumber: http://www.goal.com/id-ID/news/1353/sepakbola-italia/2011/10/18/2716812/video-andrea-agnelli-ini-musim-terakhir-alessandro-del-piero)

Sekilas pernyataan Agnelli ini menyiratkan kalau Juventus sudah tidak menginginkan jasa Del Piero lagi walaupun sang pemain sebenarnya ingin terus bermain untuk Juventus hingga pensiun nanti. Bahkan mantan Direktur Juventus yang dituduh sebagai dalang Calciopoli, Luciano Moggi, pun turut mengkritisi pernyataan kontroversial tersebut. Menurutnya, tidak pantas Agnelli berbicara seperti itu, seolah ingin 'mempensiunkan' sepihak pemain yang telah berbuat banyak untuk klub. Apalagi ia mengeluarkan statement di kompetisi yang baru berjalan 6 pekan ini. Menurutnya itu bisa mengganggu konsenstrasi Del Piero dan Juventus itu sendiri. Ditambah lagi rumor-rumor mulai berdatangan mengenai masa depan Del Piero yang kelihatannya sudah 'tidak diinginkan' oleh Juventus. Galliani dari AC MIlan pun kembali menyiratkan ketertarikannya untuk menampung il capitano setelah 20 tahun lalu kalah bersaing merebut Del Piero oleh Juventus. Beberapa pihak pun mulai berspekulasi kalau Del Piero akan bermain di MLS, Amerika Serikat, seperti layaknya David Beckham. 

18 tahun bukanlah waktu yang singkat. Loyalitas tanpa batas yang ditunjukan oleh Del Piero selama 18 tahun itu seharusnya dibayar dengan harga yang pantas, yaitu membiarkan ia sendiri yang memutuskan gantung sepatu di Juventus kemudian menjadi salah satu dewan direksi klub, atau bahkan pelatih Juventus di masa depan. Namun apa yang diucapkan Agnelli itu seolah menyiratkan bahwa Del Piero sudah tidak dibutuhkan lagi dalam tim. 

Sedih dan kecewa saat mendengar berita tersebut. Semua Juventini di seluruh dunia pun pasti merasakan hal yang sama. Memang benar kalau klub perlu regenerasi, tapi para direksi Juventus seharusnya tak melupakan apa yang telah diperbuat Del Piero untuk klub. Seharusnya mereka dapat menghargai legenda mereka lebih pantas lagi seperti layaknya Maldini dari AC Milan, dimana Milan mempensiunkan nomor 3 untuknya. Tampaknya hal yang tidak mungkin bagi Juventus untuk mempensiunkan nomor 10 mereka karena bagaimana pun juga itu adalah nomor paling penting dalam setiap tim sepakbola. Namun setidaknya, berikanlah penghargaan dan perpisahan yang sesuai. Jangan biarkan Del Piero pensiun di klub selain Juventus. Apa kalian bisa membayangkan Del Piero dengan baju merah-hitam ala AC Milan? Atau dengan kostum sepakbola lain? Saya tak bisa membayangkan dan tak mau membayangkannya. Saya benar-benar berharap itu tak akan terjadi.

Satu sumber mengatakan, Andrea Agnelli kelihatannya ingin mengakhiri era Triade (Moggi, Bettega, Giaraudo). Ini sudah jelas terlihat dimana mereka melego David Trezeguet dan Mauro Camoranesi yang telah berjasa bagi Juve. Begitu pula halnya dengan Pavel Nedved. Memang, usia turut mempengaruhi pensiunnya pemain yang pernah merail Ballon d'Or pada tahun 2003 itu. Namun Juve sepantasnya memberikan farewell yang lebih layak. Kecurigaan terhadap 'misi tersembunyi' Agnelli itu pun makin menjadi dengan makin 'tidak terpakai' nya sang capitano di musim ini. Conte bahkan jelas-jelas lebih memilih Mirko Vucinic yang sering membuang-buang peluang sebagai starter ketimbang Del Piero ataupun Quagliarella yang insting mencetak goal-nya lebih tajam.

Pendapat lain menyatakan, Agnelli cemburu pada kharisma Del Piero yang begitu luar biasa dimata para fans dan para pecinta sepak bola lain. Jadi ia ingin 'menyingkirkan' sang maskot secepatnya.

Apapun itu, sikap yang ditunjukan Agnelli, Marotta, serta dewan direksi Juve yang lain terhadap Del Piero, perlu dijadikan sorotan. Fans tentu akan membenci mereka kalau mereka benar-benar 'mengusir' Del Piero dari Juve tahun depan. Regerasi memang perlu, tapi tidak seharusnya mereka melupakan pemain yang telah menyatu dengan jiwa klub ini.

Sekali lagi, Del Piero adalah Juventus dan Juventus adalah Del Piero. Belum tentu ada yang bisa menggantikannya dalam dua puluh tahun lagi. Memang, usia Del Piero juga sudah tidak muda lagi, bahkan para pemain sebayanya sudah pensiun. Namun seperti kata Alessio Tachinardi - salah satu legenda Juve, "Agnelli telah melakukan kesalahan. Seharusnya Juventus bisa terus mempertahankan pemain juara seperti Del Piero, atau setidaknya biarkan ia yang memutuskan kapan akan pensiun."

Jadi, mari kita tunggu akhir musim nanti. Saya berharap akan ada resolve yang baik dari kedua belah pihak, baik dari Juventus maupun Del Piero sendiri. Semoga kita tetap bisa melihat Del Piero mengakhiri karirnya di Juve sambil merengkuh trophy Serie A. Bravo, Il Pinturicchio!

No comments:

Post a Comment