Monday, September 19, 2011

Scudetto Kami Tetap 29, Bukan 27!

November 2004

Tahun ini adalah awal mula saya 'mengenal' Juventus, sekaligus pertama kalinya saya tertarik dengan hal yang dulunya sangat saya benci yaitu sepakbola. Ya, sebelumnya saya selalu sebal saat melihat almarhum ayah saya menyetel pertandingan dimana 22 pemain memperebutkan sebuah bola. Saya tak habis pikir, apa menarik dan untungnya melihat siaran sepakbola seperti ini?

Dan Juventus merubah semuanya.
Saat itu umat muslim diseluruh dunia, termasuk kami sedang menunaikan ibadah puasa di Bulan Ramadhan. Setelah sahur, saya bermain permainan monopoli dengan teman sepermainan saya dirumah. Dia meminta saya untuk menyetel channel tertentu dan ternyata itu sepakbola. Awalnya saya sempat menentang dan terus mencibirnya, namun setelah beberapa menit saya perhatikan, saya mulai tertarik. Saat itu yang sedang bertanding adalah sebuah tim dengan baju hitam putih bergaris vertikal melawan... maaf, saya agak lupa siapa lawannya saat itu. Entah karena saya telah ditakdirkan untuk menjadi Juventini atau bagaimana, begitu melihat tim itu saya langsung terpikat. Padahal saya sama sekali tidak tahu nama tim yang sedang bertanding itu. Saya pun bertanya pada teman saya,

"Ini siapa sih yang main?"
"Yang mana?"
"Yang bajunya hitam putih."
"Ooh... itu Juventus. Kenapa?"
"Nggak... kok keren ya mainnya..."

Saat itu pula saya langsung mengklaim bahwa saya mulai menyukai tim hitam putih itu, lagi-lagi tanpa tahu sama sekali tentang sejarahnya. Minggu depannya saya kembali menonton Juventus dan lagi-lagi mereka berhasil menang. Akhirnya setelah beberapa pertandingan, saya pun mulai 'sok tahu' dengan membicarakan Juventus pada tetangga saya yang lain. 

"Eh kemaren Juventus menang yaa..."
"Iya, mereka ada di posisi satu sekarang."
"Posisi satu? Maksudnya? Bukannya kalo udah tanding ya udah ya?"

Ya, bagi saya yang benar-benar awam akan sepakbola, sangatlah minim pengetahuan tentang hal-hal seputar sepakbola, seperti klasemen, offside, kick off, overlap, free kick, ataupun penalty kick. Saya pun akhirnya iseng membeli tabloid sepakbola dan sedikit demi sedikit mulai memahami istilah-istilah itu. Tak sampai 2 bulan, saya pun hampir mengerti seluruh istilah sepakbola dan juga mengenai Juventus secara khusus. Ternyata, tim yang awalnya tidak pernah saya maksudkan untuk saya dukung ini adalah penguasa Serie-A Italia dan termasuk dalam jajaran tim terbaik di dunia dengan koleksi 27 trophy Serie A dan 11 trophy Eropa. Dan tiba-tiba saya merasa beruntung karena tidak salah memilih. 

Hari demi hari berlalu, perasaan saya terhadap Juventus tidak berubah, bahkan makin menjadi. Saya jatuh cinta pada permainan ciamiknya. Oke, saya akui, waktu itu ada pemain yang menarik perhatian saya makanya saya mulai menaruh perhatian pada Juventus. Ya, dia adalah Zlatan Ibrahimovic. Saya kagum pada skillnya, selain itu juga pada penampilan fisiknya yang tinggi dengan wajah yang bisa dibilang tampan. Namun lama kelamaan, saya lebih jatuh hati pada Juventus itu sendiri, terlebih lagi pada sang maskot Alessandro Del Piero yang sangat kharismatik dan rendah hati, juga dengan skill dan akurasi tendangan yang luar biasa.


Juli 2006

Bagaimana bisa saya melupakan tahun yang penting ini bagi Tim Nasional Italia dan juga tim sepakbola kesayangan saya Juventus? Di Tahun ini, Italia yang notabene didominasi oleh pemain Juventus ini berhasil memboyong trophy Piala Dunia untuk yang keempat kalinya setelah penalti menentukan dari sang legenda Juventus yaitu Alessandro Del Piero. Ironisnya, hanya berselang beberapa hari sejak para punggawa Juventus yang berada di Tim Nasional Italia bersuka cita dalam euforia kemenangan menjadi raja dunia, mereka harus menerima kenyataan pahit atas keputusan Federasi Sepakbola Italia FIGC yang menyatakan bahwa Juventus terbukti melakukan pengaturan skor dan didegradasi ke Serie B beserta pengurangan 30 poin.


Seketika itu pula kepala saya terasa kosong. Seperti ada petir yang menyambar tiba-tiba. Bayangkan, dua tahun saya mendukung Juventus, dalam dua tahun itu pula saya melihat permainan yang sangat mengagumkan  sehingga mereka berhasil merengkuh dua trophy secara berturut-turut, namun keputusan FIGC seolah menenggelamkan semuanya. Saya yakin, Juventini lain yang telah mendukung Juventus jauh lebih lama dari saya, pasti lebih merasakan kekecewaan yang sangat amat. 


Selain Juventus, AC Milan, Lazio, dan Fiorentina turut terseret dalam skandal pengaturan skor itu dan harus menerima hukuman yang berbeda. Namun karena FIGC merasa Juventus adalah dalang dari semuanya, makanya hukuman untuk Juventus paling berat. Malah, jaksa menuntut Juventus harus diturunkan ke Serie C1 pada awalnya. Tapi dengan proses banding yang cukup panjang, diputuskanlah Juventus turun kasta ke Serie B dengan pengurangan 9 poin, plus pembatalan scudetto musim 2004/2005 dan 2005/2006 (pada akhirnya scudetto 2005/2006 'dihibahkan' ke Inter karena statusnya sebagai juara 2). Sedangkan untuk tiga tim besar lain yang disebutkan diatas, tetap berada di Serie A dengan pengurangan poin yang berbeda-beda.


Yang saya tidak habis fikir, semua tim besar terseret ke dalam Calciopoli, namun ada satu tim besar yang melenggang dengan bersihnya tanpa tuduhan apapun. Ya, tim itu adalah Internazionale Milan - atau yang lebih lazim disebut Inter Milan. Mereka bahkan diuntungkan oleh putusan FIGC yang menyatakan bahwa scudetto milik Juventus tahun 2005/2006 adalah menjadi milik Inter, karena status mereka sebagai runner-up pada tahun itu.


Spontan Juventini seluruh dunia berang. Bagaimana mungkin scudetto yang diraih dengan hasil susah payah dibatalkan begitu saja dan harus diberikan tim lain yang dinyatakan bersih dari Calciopoli?


Saya pun akhirnya merasa ada yang janggal dengan Calciopoli ini. Semuanya terasa seperti konspirasi untuk menjatuhkan Juventus yang begitu mendominasi Serie A. Oke, mereka (FIGC) memang menemukan bukti rekaman telepon bahwa Luciano Moggi (petinggi Juventus) melakukan pembicaraan pada wasit dan dia turut berperan serta mengatur wasit yang akan memimpin jalannya pertandingan Juve. Namun apa mereka tidak melihat kerja keras seluruh pemain dan pelatih (Fabio Capello) di lapangan? Mereka mendapatkan scudetto karena memang pantas mendapatkannya. Mereka mendapatkan scudetto karena hasil jerih payah mereka, bukan karena dibantu oleh wasit atau apapun. Konspirasi tidak hanya sampai disini. Lolosnya Inter sebagai satu-satunya tim yang 'paling' bersih diantara tim besar lainnya (selain AS Roma) turut menjadi pertanyaan. Padahal beberapa bulan kemudian setelah putusan itu, ditemukanlah bukti bahwa Massimo Moratti (pemilik Inter), juga melakukan pembicaraan dengan wasit. Saat Juventus berusaha menguak hal ini, apa jawaban FIGC? Mereka bilang kalau kasus sudah kadaluwarsa. Apa ini yang namanya keadilan?


Juventus pun akhirnya menerima hukuman degradasi itu (sebelumnya Juventus belum pernah terdegradasi), dan menyisakan Inter sebagai tim yang belum pernah terdegradasi sepanjang sejarah walaupun pada tahun 1920'an, Inter pernah menjadi juru kunci, namun tidak didegradasi (lagi-lagi terdengar seperti konspirasi bagi saya). Para pemain bintang pun memulai eksodusnya karena tidak bersedia bermain di kasta nomor dua, seperti Lilian Thuram dan Zambrotta yang pindah ke Barcelona, Cannavaro ke Real Madrid, Ibrahimovic dan Vieira ke Inter, dan beberapa pemain lainnya. Untunglah Juve masih punya pemain-pemain dengan loyalitas luar biasa yang bersedia tinggal meskipun Juventus harus bermain di kasta yang lebih rendah. Mereka adalah sang kapten Alessandro Del Piero, kiper yang dinobatkan sebagai kiper terbaik dalam Piala Dunia 2006 Gianluigi Buffon, David Trezeguet, dan Mauro Camoranesi. 


Juventus tetaplah Juventus. Biarpun ditimpa masalah seberat apapun, Juve berhasil menunjukan taringnya bahwa mereka masih merupakan tim terbaik di Italia walau harus berada di kasta kedua. Pengurangan 9 poin tidak mampu membendung langkah mereka untuk mengakhiri musim dengan menjadi juara Serie B dan kembali promosi ke Serie A ditahun yang sama. Bahkan diakhir musim 2007/2008, Juve berhasil berada di posisi tiga klasemen, yang berarti Juve berhak untuk mengikuti Liga Champions musim berikutnya.


Namun tak bisa dipungkiri, terdegradasinya Juventus dan dihukumnya Luciano Moggi dan Antonio Giraudo (dua dari triade Juve yang dikenal sebagai dalang suksesnya manajemen Juventus), membuat klub agak compang-camping. Presiden dan pelatih baru pun belum bisa mengantarkan Juve meraih scudetto lagi. Belum lagi masalah wasit yang keputusannya lebih sering merugikan Juve semenjak Calciopoli itu. Juventus benar-benar seperti bulan-bulanan. Kehilangan statusnya di Eropa, kehilangan pemain-pemain kuncinya, dan bahkan kehilangan tiffosinya. Skandal itu pun turut memperburuk citra Juventus sebagai tim yang selalu dibantu wasit makanya bisa menjadi penguasa Serie A.


Saya benar-benar sedih dan menyadari benar bahwa roda kehidupan itu berputar. Juve yang dulu selalu dipuja-puja kini banyak yang memperoloknya. Teman-teman saya pun turut mencemooh saya karena menjadi pendukung tim yang 'curang' ini. Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Itulah peribahasanya. Hanya karena skandal itu, seluruh kejayaan Juventus sejak tahun 1897 turut ternoda. 


Peristiwa Calciopoli itu lantas tidak membuat saya berpaling ke tim lain, apalagi ke tim Italia lain. Jujur, saya ini bukan seorang fans yang sangat fanatik. Tapi kejadian itu membuat saya benar-benar membenci Inter Milan. Entah kenapa saya merasa Inter lah yang memegang peranan terbesar dalam sandiwara Calciopoli ini, dengan tujuan untuk menghabisi era kejayaan Juventus. Belum lagi putusan-putusan FIGC yang merugikan Juventus dan menguntungkan Inter Milan.


Saat ini presiden Juventus, Andrea Agnelli dan juga dalang Calciopoli 2006 Luciano Moggi sedang berusaha memperjuangkan hak Juventus merebut kembali scudetto 2005/2006 yang 'diambil' Inter Milan dengan menunjukkan bukti-bukti baru yang menyatakan bahwa Moratti juga turut terlibat dalam skandal itu. Saya sebagai Juventino, tidak berharap scudetto itu akan dikembalikan (karena sepertinya akan susah). Namun saya berharap keadilan dari Federasi Sepakbola Italia itu. Kalau Inter menjadi tersangka, mereka seharusnya wajib menyelidiki sebagaimana mereka menyelidiki Juve dan memberi keputusan berat secepat kilat. (Baca Babak Akhir Calciopoli by Signora1897)


So far, bagi Juventini, scudetto kami tetaplah 29, bukan 27, walaupun secara kuantitas hanya 27. Seluruh pemain dan pelatih juga merasa begitu. Mereka memenangkan scudetto di lapangan, bukan hasil 'mengemis' di meja hijau. Dan saya yakin, cepat atau lambat kebenaran pasti akan terungkap dan perlahan-lahan Juventus akan mampu kembali menjadi tim yang ditakuti, tidak hanya di Italia, namun diseluruh dunia. 


Berikut adalah petisi dari Juventino kepada FIGC agar mengembalikan scudetto yang telah 'dicuri': (Source http://signora1897.com/2011/07/05/babak-akhir-calciopoli-kebenaran-yang-terungkap/)



MI HAI CHIAMATO LADRO…
TI SEI VANTATO DI ESSERE ONESTO E PULITO….
TI SEI PRESO I MIEI ALLORI..E HAI CREDUTO DI ESSERE MIGLIORE DI ME….
IO HO PAGATO…
SENZA LACRIME E SENZA CHIEDERE PIETà A NESSUNO….
MI SONO RIALZATO CON ONORE E HO TENUTO LA MIA BANDIERA ALTA NEL CIELO…
NEI GIORNI DI TEMPESTA…
IN CUI TUTTI I VILI CHIEDEVANO E BRAMAVANO LA MIA MORTE..
CON ONORE…
MENTRE TU TI NASCONDI DIETRO LA SOLITA IPOCRISIA E MEDIOCRITà…
DIETRO AD UN DITO…
E AD UN MORTO….
OGGI COME SEMPRE IO POSSO ANDARE A TESTA ALTA…
MENTRE TU COME SEMPRE VIVI STRISCIANDO..
COME UNA SERPE VILE E FALSA…
CHE PRIMA SI NASCONDEVA DIETRO GLI ARBITRI E OGGI DIETRO LA PRESCRIZIONE….
IO SONO LA JUVENTUS…
E OGGI IL MIO NOME BRILLA NEL CIELO LUMINOSO E FIAMMEGGIANTE…
E TU…E TU SEI SOLO UN VIGLIACCOCHE SI VANTA DEI TRIONFI ALTRUI!!!!!!!!!!
Artinya :
Engkau memanggil ku pencuri dan bangga menganggap diri bersih dan jujur.
Engkau mengambil kepunyaan ku dan percaya bahwa diri mu lebih baik dari ku.
Aku menerima ganjaran, tanpa air mata dan tanpa meminta belas kasihan dari siapapun.
Aku bangun dengan kebanggan dan menjaga bendera ku tetap berkibar di langit tinggi, di tengah badai.
Ketika kekejian meminta kematian ku, aku mati dengan terhormat.
Sementara engkau bersembunyi dibalik kemunafikan dan orang mati
Hari ini seperti biasanya, saya bisa tetap mengangkat kepala sementara engkau terkubur makin dalam
Ibarat seekor ular palsu dan berbisa
Pertama bersembunyi di belakang wasit dan hari ini dibalik sebuah pandangan awal
Saya adalah Juventus, dan hari ini Nama Ku bersinar terang di langit tinggi
Engkau hanya seorang pengecut yang bangga telah mencuri kemenangan orang lain.

No comments:

Post a Comment